MAKALAH
MIKROBIOLOGI PANGAN ASAL HEWAN
RESISTENSI
ISOLAT BAKTERI E. coli DARI DAGING AYAM POTONG KOMERSIL DI IRAN TERHADAP BEBERAPA AGEN
ANTIMIKROBA
CHOLILIA
ABADIATUL MASRUROH
B251140021
SEKOLAH
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI
KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS
KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2014
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Beberapa
kejadian dan peningkatan sifat resistensi bakteri terhadap kebiasaan penggunaan
antibiotik telah menjadi perhatian di seluruh dunia. Terdapat beberapa program
untuk memantau sifat resistensi suatu bakteri telah dilakukan di berbagai
Negara dengan tujuan untuk melindungi hewan maupun manusia. Program-program
tersebut biasanya memantau pada bakteri indikator seperti E. coli.
Strain-strain E. coli telah dikenal sebagai patogen
utama pada Colibacillosis di peternakan
unggas dan beberapa dari strain-strain tersebut dapat menyebabkan berbagai
macam penyakit pada manusia seperti sindrom haemorrhagic
colitis and haemolytic uremic. Selanjutnya, penanganan terhadap
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh patogen mikroba membutuhkan terapi
antimikroba. Keputusan penggunaan terapi ini tergantung pada ketahanan mikroba dan
sifat farmakokinetik dari obat tersebut. Namun, pemberian antimikroba atau
antibiotik yang secara berulang menyebabkan peningkatan sifat resistensi
mikroba terhadap antibiotik atau antimikroba. Sehingga, penelitian tentang
tentang sifat resitensi bakteri khususnya E.
coli perlu ditingkatkan sebagai awal perlindungan terhadap kesehatan hewan
dan manusia.
Rumusan
Masalah
Permasalahan
yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana pola sifat resitensi
antimikroba pada E. coli yang
diisolasi dari daging ayam potong komersil di Iran?
Tujuan
Adapun tujuan
dari pembelajaran ini adalah untuk mengetahui pola sifat resitensi antimikroba
pada E. coli yang diisolasi dari
daging ayam potong komersil di Iran.
TINJAUAN
PUSTAKA
Bakteri
E. coli
Bakteri E. coli biasanya ditemukan di sistem pencernaan
pada manusia dan hewan, sebagai hasil kontaminasi fecal atau kontaminasi selama
pangan asal hewan disembelih, dan bakteri ini sering ditemukan di tanah, air,
dan makanan. Jumlah strain bakteri E.
coli dikenal sebagai patogen terhadap Colicobacillosis di peternakan unggas
dan beberapa di antara mereka dapat menyebabkan berbagai macam penyakit pada
manusia seperti sindrom haemorrhagic colitis dan haemolytic uremic (Ferens and
Hovde 2011).
Agen
Antimikroba
Perlakuan
terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh beberapa bakteri sering
membutuhkan terapi antimikrobial. Keputusan penggunaan terapi ini tergantung
pada ketahanan dari mikroorganisme dan sifat farmakokinetik dari obat tersebut
sebagai keberhasilannya terhadap dosis therapeuticnya pada suatu infeksi serta
efisiensi secara klinik (McKellar et al.
2004). Namun, praktisi veteriner harus membatasi keputusan mereka dalam
penggunaan antimikroba pada industri ternak unggas, mereka harus
mempertimbangkan isu sifat resistensi mereka terhadap agen antimikroba dan kesehatan
manusia. Terlebih lagi, pengulangan dan ketidakcocokan penggunaan antibiotik
telah mendorong jumlah peningkatan sifat resistensi terhadap suatu antimikroba
atau antibiotik (Mooljuntee et al.
2010).
Penggunaan
antibiotik sebagai penyebab terjadinya sifat resistensi tidak hanya pada
bakteri patogen tetapi juga pada flora endogenus dari paparan individu maupun
populasi. Oleh karena itu, tekanan seleksi antibiotik terhadap ketahanan pada
bakteri di peternakan unggas sangat tinggi dan akibatnya, flora fecal mereka
mengandung suatu ukuran sifat resistensi bakteri yang tinggi.
Gen
Resisten Terhadap Antimikroba
Integron
merupakan pemeran penting dalam penyebaran sifat resistensi terhadap
antimikroba di antara bakteri-bakteri Gram negatif. Integrin merupakan struktur
genetic yang mampu untuk menangkap, mengeluarkan, dan mengekspresikan gen, yang
secara pasti termasuk elemen yang bergerak seperti plasmid yang mengatur
penyebaran mereka di antara bakteri – bakteri (Fluit and Schimitz 2004). Saat
ini, teknik molekuler, khususnya Polymerase Chain Reaction (PCR) telah umum
digunakan untuk mempelajari gen resiten terhadap suatu antimikroba. Terlebih
penggunaan antibiotik atau antimikroba pada industri ternak unggas di Iran.
Dalam penelitian
yang dilakukan oleh Momtaz et al.
(2012), sifat resistensi E.coli diawali
dengan isolasi DNA menggunakan Genomic DNA purification kit. Selanjutnya,
identifikasi adanya gen yang berhubungan dengan sifat resistensi terhadap
streptomycin (aadA1), tetracycline (tet(A),
dan tet(B)), trimethoprim (dfrA1), quinolones (qnr), gentamicin (aac(3)-IV), sulfonamides (sul1), beta-lactam (blaSHV
dan blaCMY),
ertromycin (ere(A)), dan
chloramphenicol (catA1, cmlA) dideterminasi menggunkan PCR
dengan primer yang terdapat pada tabel 2.1. Tahap terakhir dilakukan uji
ketahanan terhadap antimikroba pada E.
coli dengan metode pengenceran Kirby-Bauer
disc, dimana agen antimikroba diuji menggunakan konsentrasi sebagai
berikut:
·
Sulfamethaxazol (25 µg/disc),
·
Trimethoprim (5 µg/disc),
·
Chloramphenicol (30 µg/disc),
·
Enrofloxacin (5 µg/disc),
·
Tetracycline (30 µg/disc),
·
Gentamycin (10 µg/disc),
·
Cephalothin (30 µg/disc),
·
Ampicillin (10 µg/disc), dan
·
Streptomycin (10 µg/disc).
Selanjutnya interpretasi dari
hasil inkubasi terhadap agen antimikroba menggunakan kriteria berdasar CLSI,
dimana E. coli ATCC 25922 sebagai organisme
kontrol kualitasnya.
PEMBAHASAN
Gambaran
Sifat Resistensi Antimikroba dari Beberapa Strain E. coli yang Diisolasi dari daging Ayam Potong di Iran
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Momtaz,
et al. (2012) menunjukkan bahwa dari
360 spesimen, yang teridentifikasi E.
coli sebanyak 57 (15,8%) isolat. Namun, dari seluruh E. coli tersebut, tidak ada yang teridentifikasi sebagai E. coli O157:H7. Selain itu,
strain-strain tersebut yang memiliki resistensi terhadap tetracycline sebanyak
52,6%, terhadap sulfonamides dan erythromycin sebanyak 47,4%, dan terhadap
Cholramphenicol, Trimethoprim, dan Quinolones sebanyak 36,8%. Namun,
berdasarkan hasil yang ada, tidak ditemukan strain yang resiten terhadap
streptomycin, cephalothin, dan ampicillin. Hasil tersebut ditunjukkan oleh
tabel berikut:
Tabel
3.1. Distribusi Sifat Resistensi terhadap Antimikroba dalam Strain E. coli
Isolat E. coli sering mengkontaminasi pangan asal hewan, dan dalam
penelitian yang telah dilakukan oleh Momtaz, et. al (2012) mikroorganisme tersebut telah ditemukan dari 57
daging ayam potong, dan kebanyakan dari strain-strain tersebut menujukkan
fenotip multi-resisten. Adapun persentase gen yang menunjukkan sifat resitensi
terhadap berbagai macam antimikroba atau antibiotic (erythromycin,
sulphonamides, chloramphenicol, dan tetracycline) sangat tinggi, yaitu antara
36 % hingga 52%. Hal ini memberikan
informasi bahwa E. coli yang berasal
dari daging berpotensi menjadi mikroorganisme yang sangat resisten terhadap
antimikroba atau antibiotik, atau biasa disebut dengan Reservoir.
Rangkaian sifat resistensi bakteri E. coli terhadap Sembilan agen
antimikroba juga telah diuji dalam penelitian yang dilakukan oleh Momtaz, et.al (2012). Hasil penelitian tersebut
menggambarkan bahwa dari 57 isolat yang diuji, seluruhnya termasuk dalam isolat
yang resisten terhadap agen antimikroba, dimana paling banyak ditemukan
resisten terhadap tetracycline, yaitu sebesar 91,2%. Selanjutnya disusul oleh
resistensi terhadap sulfamethazol sebanyak 45,6%, chloramphenicol dan
trimethoprim sebanyak 29,8%. Hal ini berbeda ketika isolat-isolat tersebut
diuji menggunakan streptomycin, cephalothin, gentamicin, dan ampicillin, dimana
isolate-isolat E. coli memiliki sifat
yang rentan terhadap agen antimikoroba tersebut. Tabel berikut memberikan
informasi terhadap sifat resistensi isolat E.
coli terhadap sembilan agen antimikroba:
Tabel
3.2. Profil Resistensi Antimikroba dari Isolat E. coli yang Diisolasi dari Daging Ayam Potong
Menurut Momtaz, et. al (2012), mekanisme penyebaran sifat resistensi terhadap
antimikroba atau antibiotik dari makanan asal hewan ke manusia masih menjadi
masalah kontrovesi. Namun, kolonisasi E.
coli dari daging ayam telah dipaparkan oleh Linton, et. al (1977), dimana telah ditemukan kolonisasi E. coli yang resisten terhadap
Antimikroba di dalam saluran pencernaan manusia. Selain itu, resistensi terhadap
agen antimikroba yang sama telah dilakukan sebelumnya oleh Heuer and Hammerun
pada Tahun 2005 yang mengamati resistensi bakteri di Negara berbeda terhadap
obat hewan.
Penelitian serupa juga telah dilakukan
oleh Mooljumtee et. al (2010) tentang
resistensi isolate bakteri E. coli
yang diisolasi dari daging ayam Broiler di Thailand. Penelitian tersebut
menemukan isolat-isolat tersebut resisten terhadap tetracycline, ampicillin,
dan erythromycin yang dibiakkan dalam agar yang telah diencerkan. Resistensi
terhadap agen-agen antimikroba berhubungan dengan gen tet(A) sebesar 90%, blaCMY
sebesar 93,3%, dan ere(A) sebesar
73,3%. Resitensi rendah juga ditemukan ketika isolat bakteri dari ayam broiler
terpapar oleh cephalothin yaitu sebanyak 73,3% dan sulphonamide +
trimethopherin sebanyak 26,7%, dimana resistensi tersebut berhubungan dengan
adanya gen blaSHV sebanyak
86,4% dan gen sul1 dan dfrA5 sebanyak 100%.
Adapun persentase sampel fecal yang
mengandung E. coli yang bersifat
resisten dibedakan menjadi tiga populasi industri ternak unggas menurut van den
Boogard et al (2001), yaitu broiler
dan turkey yang biasanya diberikan antibiotik, dan ayam betina yang juga diberi
antibiotik namun jarang dilakukan. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa
sifat resistensi terbanyak ditemukan di industri ternak broiler dan turkey,
sedangkan prevalensi yang rendah terdapat di industri ternak ayam betina.
Lietzau et al (2006) juga menyatakan
bahwa prevalensi sifat resisten terhdap ampicillin pada betina yaitu 15,7% dan
pada jantan 19,4%. Sedangkan 10% dari isolat tersebut resisten terhadap
cotrimoxazole dan 15% resiten terhadap doxycycline.
SIMPULAN
Daging
ayam potong komersil yang telah diuji dalam penelitian ini membuktikan bahwa
terdapat bakteri E. coli yang
bersifat reservoir dan resisten terhadap agen antimikrobas seperti
Tetracycline, Trimethoprim, Enrofloxacin, Sulfamethoxazol, dan Chloramphenicol.
DAFTAR
PUSTAKA
Ferens
WA, Hovde CJ. 2011. Escherichia coli
O157:H7: animal reservoir and sources of human infection. Foodborne
Pathogens and Disease 8, 465–485.
Fluit
AC, Schmitz FJ. 2004. Resistance Integrons
and Super-integrons. Clinical Microbiology and Infection 10, 272–288.
Heuer
O, Hammerun A. 2005. Use of Antimicrobial
Agents and Occurrence of Antimicrobial Resistance in Bacteria from Food
Animals, Food and Humans in Denmark. Staten’s Serum Institute, Danish
Veterinary and Food Administration, Danish Medicines Agency, Danish Institute
for Food and Veterinary Research, Copenhagen, Denmark. 57 pp.
Lietzau
S, Raum E, Von Baum H, Marre R, Brenner H. 2006. Clustering of Antibiotic Resistance of E. coli in Couples: Suggestion
for a Major Role of Conjugal Transmission. BMC Infectious Diseases 6, 119.
Linton
AH, Howe K, Bennett PM, Richmond MH, Whiteside EJ (1977): The colonization of
the human gut by antibiotic resistant Escherichia coli from chickens. Journal
of Applied Bacteriology 43, 465–469.
Mckellar
QA, Sanchez Bruni SF, Jones DG. 2004. Pharmacokinetic
or Pharmacodynamic Relationships of Antimicrobial Drugs used in Veterinary Medicine.
Journal of Veterinary Pharmacology and Therapeutics 27, 503–514.
Mooljuntee
S, Chansiripornchai P, Chansiripornchai N. 2010. Prevalence of the Cellular and Molecular Antimicrobial Resistance Against
E. coli Isolated from Thai Broilers. Thai Journal of Veterinary Medicine
40, 311–315.
Van
den Bogaard AE, London N, Driessen C, Stobberingh E.E. 2001. Antibiotic Resistance of Fecal Escherichia
coli in Poultry, Poultry Farmers and Poultry Slaughterers. Journal of
Antimicrobial Chemotherapy 47, 763–771.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar