Jumat, 14 November 2014

MIKROBIOLOGI PANGAN ASAL HEWAN - E. coli pembusuk



MAKALAH MIKROBIOLOGI PANGAN ASAL HEWAN


BAKTERI  E. coli SEBAGAI AGEN PEMBUSUK PADA KEJU MOZARELLA DAN EFEKTIFITAS CHITOSAN PENGHAMBAT AGEN PEMBUSUK







CHOLILIA ABADIATUL MASRUROH
B251140021






















SEKOLAH PASCASARJANA
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014


PENDAHULUAN



Latar Belakang


            Beberapa percobaan atau persiapan pada penyediaan produk asal susu (dairy foods) merupakan tantangan bagi ahli mikrobiologis, ahli tehnik, dan ahli kesehatan untuk menemukan cara terbaik dalam pencegahan masuknya mikroorganisme, menghancurkan mikroorganisme yang memiliki enzim, dan mencegah pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme yang lolos dari perlakuan selama prosessing. Macam-macam mikroorganisme pembusuk atau pencemar termasuk bakteri Gram negatif aerobic psikotropik, kapang, khamir, heterofermentative lactobacilli, dan bakteri penghasil spora. Bakteri psikotropik dapat menghasilkan enzim hidrolitik ekstraseluler dalam jumlah banyak dan meningkatkan terjadinya rekontaminasi produk pasteurisasi susu dimana bakteri ini merupakan pembeda utama bagi masa simpan produk tersebut. Coliform, kapang, bakteri asam laktat heterofermentatif, dan bakteri penghasil spora dapat menyebabkan kerusakan pada keju karena gas yang mereka hasilkan. Tingkat pembusukan atau pencemaran pada berbagai produk asal susu dapat diperlambat dengan melakukan beberapa perlakuan seperti menurunkan pH dengan fermentasi lactose menjadi asam laktat, penambahan asam, penambahan garam atau gula untuk menurunkan kadar air, pengeringan, pengemasan untuk membatasi ketersediaan oksigen, dan pembekuan. Terjadinya perbedaan macam mikroorganisme pembusuk di antara produk asal susu karena adanya efek dari praktek yang selektif selama produksi, formulasi, prosessing, pengemasan, penyimpanan, distribusi, dan penanganan (Ledenbach and Marshal 2010).
Bakteri E. coli telah dikenal sebagai mikroorganisme patogen dan pembusuk utama yang sering ditemukan dalam produk asal susu seperti keju. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas bakteri ini sebagai pencemar dalam keju. Selain itu, proses penangan dalam produksi keju merupakan hal penting yang harus diperhatikan untuk menekan pertumbuhan bakteri E. coli sebagai pencemar agar produk dalam keadaan aman, baik secara fisik, kimia dan atau organoleptiknya. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk memahami aktivitas pembusukan bakteri E. coli dan penghambatan aktifitas pembusukan E. coli.



Rumusan Masalah


Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
·      Bagaimanakah bakteri E. coli  pembusuk berdampak pada kualitas keju Mozarella?
·      Bagaimanakah patogenitas bakteri pembusuk dengan kondisi keterbatasann garam pada keju Mozarella selama penyimpanan dalam refrigator?
·      Bagaimana efektifitas chitosan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri E. coli pembusuk pada keju Mozarella selama penyimpanan dalam refrigator?




Tujuan


Adapun tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk memahami bagaimana bakteri E. coli berdampak pada kualitas keju Mozarella, memahami incident pathogen-related bacteria dalam kondisi limit garam selama penyimpanan di refrigator, serta memahami efektifitas chitosan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri E. coli pembusuk pada keju Mozarella dalam kondisi limit garam selama penyimpanan di refrigator.



TINJAUAN PUSTAKA



Dairy Food


Industri susu secara global mengalami peningkatan. Pada tahun 2005, produksi susu dunia mencapai 644 juta ton, dimana 541 juta ton merupakan susu sapi. Pencetus produser susu adalah orang Eropa (142 juta ton), India 88 juta ton, US 80 juta ton, dan Rusia 31 juta ton. Produksi keju diperkirakan hingga 8,6 juta ton di Eropa Barat dan 4.8 juta ton di Amerika. Produk asal susu dapat dengan mudah tercemar atau terjadi pembusukan yang disebabkan oleh mikroorganisme menjadikan produk-produk tersebut berubah masa simpannya. Berikut adalah  tabel ringkasan beberapa produk asal susu dan berbagai mikroorganisme pencemarnya (Ledenbach and Marshal 2010).

Tabel 2.1 Produk Asal Susu dan Jenis Mikroorganisme atau Aktivitas Mikrobial



Karakteristik pada Keju


Keju merupakan salah satu jenis makanan siap saji. Pembuatan keju menuntut seseorang dengan rata-rata konsentrasi dan  pengawetan susu pada suatu waktu ketika refrigasi belum dikenal dan prinsip pengawetan tersebut hanya berdasar atas pengalaman selama pembuatan keju. Perintis pembuatan keju di US dibuat dari susu pasteurisasi yang menyebabkan produk bebas dari patogen (Bishop and Smukowski 2006).
Karakteristik keju yang paling melekat adalah keju dibuat dengan penambahan kultur starter yang menyediakan pertahanan untuk menghambat pertumbuhan patogen. Perlakuan yang lebih banyak daripada pasteurisasi atau pemanasan juga berkontribusi secara signifikan dalam keamanan mikrobial pada keju. Beberapa perlakuan, seperti manajemen kualitas susu, protocol kultur asam laktat, pengontrolan pH, penambahan garam, dan kontrol terhadap kondisi pengasapan, merupakan perkembangan teknologi. Sedangkan faktor lain meliputi substansi penghambat alami (seperti Lisozim), senyawa metabolit dan produk fermentasi (seperti nisin), termasuk asam organik (seperti laktat, asetik, propion, dan formal). Kandungan kadar air atau kelembaban menentukan terjadinya efek kerusakan oleh patogen foodborne selama produksi dan pematangan keju (Bishop and Smukowski 2006).
Bishop and Smukowski (2006) juga mengemukakan bahwa selama produksi keju semi-soft, hard, dan very hard, keju-keju tersebut diinkubasi dengan suhu untuk bakteri dalam waktu yang lama. Sebagai contoh, Cheddar dan jenis yang lain diperlakukan pada sushu 31-39˚C selama produksi dan digelindingkan pada suhu 32-37˚C. Beberapa jenis keju Cheddar diasapi pada suhu hingga 15,6 ˚C.  Keju Swiss juga diperlakukan pada suhu 22,2-23,3 ˚C selama 4-8 minggu untuk membentuk rasa. Jika penyimpanan Cheddar dan Swiss pada suhu ruang akan mempengaruhi kerusakan pada keamanan keju, sehingga tidak lagi aman untuk dikonsumsi.
Fermentasi merupakan metode persiapan makanan yang sejak dahulu telah digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan ketahanan bakteri patogen. Bakteri asam laktat biasanya digunakan untuk memproduksi produk susu fermentasi yang bersifat antagonis terhadap patogen foodborne dan selanjutnya menghambat atau inaktifasi bakteri patogen. Selain itu, beberapa penelitian menyebutkan bahwa beberapa kultur starter merusak organisme pembusuk makanan maupun beberapa patogen pada produk susu. Dalam aksi ini yang ebrtanggung jawab adalah senyawa metabolit seperti asam laktat dan asam yang lain, diasetil, hydrogen peroksida, dan berbagai substansi mirip antibiotik yang diproduksi oleh bakteri asam laktat, dimana bersifat sinergik (Bishop and Smukowski 2006). 
Suhu pada saat pemasakan (pengentalan) dan fermentasi atau pemasakan atau penyimpanan memiliki pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan patogen dan ketahanan dalam keju. Pada keju jenis hard  dengan suhu pemasakan pengentalan yang lebih tinggi, pertumbuhan patogen sangat sedikit. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa keju yang khusus tidak mendukung pertumbuhan patogen selama penyimpanan. Sebuah literatur tentang riview menghubungkan peluang tumbuh patogen pada keju hard yang dimatangkan selama 60 hari, pertumbuhan patogen seperti tidak terjadi karena faktor yang sangat melekat pada keju tersebut (Bishop and Smukowski 2006).
Pada kebanyakan jenis keju, konsentrasi garam mencapai tingkat 1,6-3,0% dari berat total keju, dimana tidak berpengaruh kuat terhadap pertumbuhan bakteri patogen dalam keju. Tetapi, hal ini harus disadari bahwa garam dilarutkan dalam pengenceran hanya pada keju, tempat dimana bakteri tumbuh. Pemberian jumlah yang berturut-turut konsentrasi garam saat fase pengenceran pada tingkat 2,2-6,5% atau lebih, pada kenyataanya memperlambat pertumbuhan kebanyakan bakteri (Bishop and Smukowski 2006).

Tabel 2.2 Model Paparan Bakteri pada Keju






Keju secara khusus dikategorikan berdasarkan tingkat kelembaban, yaitu (Bishop and Smukowski 2006):
·      Soft            ≥ 50%
·      Semi-soft    > 39 - < 50%
·      Hard           ≤ 39%

Asiago (Medium dan Old)

Medium dan old Asiago (pematangan setidaknya 6 bulan dan 12 bulan, berturut-turut) merupakan keju hard dengan karakteristik yang sangat mirip dengan keju Parmesan. Keju jenis ini tidak dikelompokkan berdasarkan tanggal pembuatan dan ditetapkan sebagai keju hard  yang dimatangkan paling tidak selama 60 hari yang hampir tidak mendukung pertumbuhan patogen (Bishop and Smukowski 2006).



Cheddar

Cheddar merupakan jenis keju hard yang tidak mendukung pertumbuhan Listeria monocytogenes dan menyebabkan kematian pada seluruh suhu. Penemuan yang telah dikonfirmasi menunjukkan bahwa pertumbuhan L. monocytogenes selama masa produksi telah dihambat oleh asam proper yang dihasilkan kultur starter yang aktif (Bishop and Smukowski 2006).


Colby

Colby merupakan keju jenis hard hingga semi-soft yang juga tidak mendukung pertumbuhan L. monocytogenes dan menyebabkan kematian pada semua suhu. Beberapa peneliti mempelajari perilaku patogen yang diinokulasi selama proses produksi dan pemasakan keju Colby menjelaskan bahwa Escherichia coli secara umum menurun drastic dalam kurun waktu mingguan dan tidak ditemukan lagi setelah 4-6 minggu (Bishop and Smukowski 2006).


Feta

Standart regulasi Yunani untuk keju Feta menetapkan bahwa keju ini tidak dapat mengandung lebih dari 56% kelembaban dan di bawah 43% FDM. Tidak ada standart untuk kandungan garam, namun prosedur penggaraman masih dijelaskan dalam regulasi tersebut. Keju Feta komersil diproduksi di Yunani secara normal mengandung sekitar 2,5% garam (Bishop and Smukowski 2006).

Monterey Jack

Keju ini merupakan jenis hard hingga semi-soft yang mana tidak mendukung pertumbuhan L. monocytogenes dan menyebabkan kematian pada seluruh suhu. Monterey Jack memiliki karakter yang hampir sama dengan keju yang sifatnya tidak mendukung pertumbuhan bakteri patogen seperti pH, keterlarutan NaCl, dan kelembaban (Bishop and Smukowski 2006).


Mozzarella

Mozzarella adalah keju jenis soft hingga semi-soft yang memiliki protocol produksi perusak patogen (Bishop and Smukowski 2006). Menurut Ganesan et al. (2012), keju Mozarella merupakan keju yang sangat terkenal di pasar US dan biasanya digunakan dalam salad atau dimakan secara langsung. Keju ini banyak disukai karena rasanya yang hampir sama dengan susu segar dengan sensasi kreami. Keju ini dibuat melalui pengasaman lansung dengan asam sitrat atau cuka putih untuk mendapatkan pH yang rendah, sebagai kebalikan penambahan stater pada keju komersil pasta filata lainnya, serta disimpan di tempat kering atau dalam air tanpa penambahan garam.




Muenster

Adalah keju semi-soft yang juga tidak mendukung pertumbuhan L. monocytogenes dan mengakibatkan kematian pada seluruh suhu. Keju Muenster memiliki karakter yang hampir sama dengan keju yang sifatnya tidak mendukung pertumbuhan bakteri patogen seperti pH, keterlarutan NaCl, dan kelembaban (Bishop and Smukowski 2006).



Parmesan

Parmesan ialah keju jenis hard yang matang pada suhu 12,8% selama 10 bulan, yang sifatnya sama seperti keju yang lain. Tidak ada kasus outbreak yang disebabkan oleh keju jenis ini. Data Keamanan kemungkinan berhubungan dengan kondisi selama produksi dan pengasapan yang dapat menghambat patogen pembusuk (Bishop and Smukowski 2006).

Tabel 2.3 Data Kalkulasi Kandungan pada Keju





Bakteri E. coli sebagai Mikroorganisme Pembusuk


Sifat Proteolitik

Bakteri proteolitik merupakan jenis mikroorganisme yang mampu memecah protein dengan memutus rantai peptide. Oleh karena itu, bakteri jenis ini dapat menyebabkan pembusukan pada pangan yang mengandung protein tinggi (bersifat putreaktif). Proses pembusukan menghasilkan senyawa H2S yang berbau busuk. Bakteri proteolitik terdiri atas banyak jenis misalnya E.Coli, Klebsiella dan Pseudomonas. Kelompok bakteri tersebut mampu menghasilkan enzim protease. Secara umum enzim protease dibedakan menjadi dua kelompok yaitu proteinase (mengkatalis hidrolisis molekul protein menjadi peptida) dan peptidase (menghidrolisis fragmen peptida menjadi asam amino) (Winarwi, 2006).


Coliforms

Pada produk keju, produksi asam laktat yang lambat oleh kultur starter menyebabkan menolong pertumbuhan dan produksi gas oleh bakteri jenis coliform, yang mana bakteri jenis ini memiliki waktu yang singkat di bawah berbagai kondisi. Pada dasarnya, peningkatan pH selama pemasakan, merupakan waktu peningkatan potensi pertumbuhan bakteri koliform (Ledenbach and Marshal 2010).


Tabel 2.4. Penyebab Adanya Gas pada Beberapa Jenis Keju







Chitosan sebagai Penghambat Bakteri E. coli Pembusuk


Penggunaan chitosan sebagai agen antimikrobial dapat memperpanjang masa simpan keju Mozarella karena chitosan merupakan lingkungan yang bersahabat dan relatif murah. Chitosan merupakan senyawa deasetilasi kitin, senyawa kedua biopolimer berlimpah di dunia setelah selulosa. Chitosan memiliki 3 jenis aktivitas fungsional, yaitu:
·        Kelompok satu asam amino
·        Kelompok 2 primer
·        Kelompok hidroksil sekunder
Substansi ini telah menarik perhatian beberapa decade terakhir karena cakupan potensinya dalam aplikasi industri, namun beberapa bukti telah dipaparkan dalam aplikasi makanan, meskipun terdapat bukti ilmiah tentang efektifitasnya dalam penghambatan pertumbuhan mikroba. Chitosan juga merupakan senyawa yang kaya manfaat dan dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, sebagai edible film, zat additive, atau untuk meningkatkan kualitas nutrisi(Altlerl et al. 2005).




PEMBAHASAN



Gambaran Aktifitas Bakteri E. coli Pembusuk pada Keju Mozarella Fresh dalam Kondisi Limit Garam


Penelitian yang dilakukan oleh Ganesan et al. (2012) secara sukses membuat 3 macam keju dengan perlakuan pemberian garam yang berbeda (tabel 4.1). Penghitungan jumlah bakteri aerob (APC/ Aerobic Plate Counts) dalam keju tanpa penambahan bakteri tidak menunjukkan perubahan hingga 2 minggu, namun terjadi peningkatan dari 1000 hingga 10000 ikatan pada minggu ke-4 dan tetap dalam jumlah tersebut hingga minggu ke 6. Selanjutnya dari minggu ke-6 hingga minggu ke-9, mengalami peningkatan dari 0,5 hingga 2 desimal log pada keju dan brine. Hal ini dimungkinkan bakteri telah berkembang dengan pesat dalam suhu refrigasi. Pencemaran bakteri aerob terjadi pertumbuhan secara signifikan lebih cepat terjadi pada keju kering dengan kadar garam tinggi daripada keju mozzarella fresh brine. Pengamatan ini memberikan pendapat bahwa pembusukan keju mozzarella fresh kemungkinan disebabkan oleh bakteri yang toleran terhadap suhu dingin, dimana perlu karakterisasi lebih lanjut (Ganesan et al. 2012).
Jumlah bakteri aerob meningkat antara 2 dan 4 minggu dalam penyimpanan. Keju mozzarella fresh secara khas kehilangan integritas teksturnya dan menurunnya cita rasa dalam selang waktu tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa bakteri tumbuh secara lambat dalam suhu refrigator. Secara tidak langsung, hal ini memberikan informasi bahwa kondisi-kondisi dalam keju mozzarella fresh (seperti pH 5,5; 60% kelembaban; dan kadar garam 0,7-2%) telah memperlambat pertumbuhan bakteri secara luas, namun tidak efisien dalam mencegah pembusukan dari bakteri (Ganesan et al. 2012).


Tabel 3.1. Analisis Perkiraan pada Keju Mozzarella


Gambar 3.1 APC (Aerobic Plate Count) pada keju mozzarella fresh dan brine selama penyimpanan dalam refrigator

Pengaruh garam terhadap bakteri indigenus pada keju mozzarella fresh masih belum jelas, sebagai pertimbangan bahwa bakteri aerob tumbuh di antara keju kering dengan kadar garam rendah  dan keju mozzarella fresh kering yang mengandung 2% garam. Meskipun keju kering dengan kadar garam rendah menunjukkan pertumbuhan bakteri yang lebih tinggi pada minggu ke-2, namun secara menyeluruh jumlah bakteri pada minggu ke-6 hingga minggu ke-8 terjadi pada keju asin (Gambar 3.1). Hal ini menggambarkan perbedaan ketahanan jenis bakteri yang pada kondisi kadar garam dan kelembaban yang berbeda pula (Ganesan et al. 2012).
Pemilihan Escherichia coli sebagai model penelitian ketahanan bakteri karena bakteri ini merupaka bakteri Gram negatif dan habitat alaminya adalah air yang terkontaminasi feses. Bakteri ini ditambahkan pada keju Mozzarella fresh tumbuh sekitar 10-100 ikatan selama 9 minggu dalam refrigator. Pada keju mozzarella brine-stored fresh, inokulasi E. coli dalam penyimpanan brine tumbuh hanya pada brine dan lebih lanjut menimbulkan kekentalan. Pola pertumbuhan bakteri ini menunjukkan bahwa penambahan 2% garam dalam keju mozzarella fresh tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan E. coli (Gambar 3.2) (Ganesan et al. 2012).
Gambar 3.2 Plate Counts bakteri E. coli  yang ditambahkan pada keju selama penyimpanan di refrigator

Menurut Ganesan, et. al (2012), E. coli yang tahan hidup setelah  4 minggu selama penyimpanan dalam kekentalan menginformasikan bahwa kontaminasi bakteri feses memiliki pola ketahanan waktu yang lebih panjang. Sebagaimana telah diteliti dengan penghitungan jumlah bakteri aerob, keju dengan kadar garam yang tinggi berpengaruh terhadap minimalisir pertumbuhan E. coli selama penyimpanan, menimbulkan pendapat bahwa penambahan garam saja tidak cukup efektif dalam mencegah pertumbuhan bakteri. Dimana kelembaban yang rendah pada keju Mozarella part-skim memiliki masa simpan yang lebih panjang dibandingkan dengan keju mozzarella fresh, dengan adanya starter bakteri, kelembaban yang rendah dan pH, dan tingginya kadar garam kemungkinan secara berkesinambungan menghambat pembusukan keju yang diakibatkan oleh pencemaran bakteri dari kontak permukaan, pemasakan, dan pendinginan.
Keju mozzarella fresh merupakan jenis keju soft yang memiliki tekstur mirip keju jenis mozzarella yang lain dan harus mengikuti standart perkembangan FDA dalam mengidentifikasi keju jenis ini. Namun, keju mozzarella fresh dibuat tanpa asam LAB dan selanjutnya batas pertahanan mikroba sangat tinggi prosesnya (semi-hard dan hard). Selain itu, keju mozzarella fresh memiliki 55 hingga 60% kelembaban dan dapat disimpan dalam bentuk cair, sehingga kadar airnya lebih tinggi daripada keju jenis lain. Oleh karena itu, peneliti perlu pemahaman lebih lanjut mengenai ketahanan bakteri pencemar yang tidak dikenal selama kondisi produksi yang bersih dan juga pengetahuan mengenai kemungkinan meluasnya pencemaran hingga ketahanan post-incidence (Ganesan et al. 2012). Dengan memahami mekanisme pertumbuhan bakteri yang mencemari pada permukaan, peneliti dapat mengontrol dan menurunkan keberadaan bakteri dalam pangan dan dapat memperpanjang masa simpan keju mozzarella fresh.






Chitosan sebagai Agen Penghambat Bakteri E. coli  Pembusuk pada Keju Mozarella


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Altieri et al. (2005), chitosan dapat memperlambat pertumbuhan coliforms selama proses penyimpanan. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan masa simpan (± 1 hari) (Tabel 3.2). Hasil ini berhubungan dengan bukti tentang perpanjangan fase lag dari coliforms (Gambar 3.3).


Tabel 3.2 Estimasi Perpanjangan Masa Simpan Keju Mozzarella selama Penyimpanan dengan Coliforms dengan Penambahan Chitosan





Gambar 3.3 Pengaruh Pemberian Chitosan selama penyimpanan dengan konsentrasi Coliforms pada suhu 4˚C Keju Mozarella




SIMPULAN


Keju mozzarella fresh yang diproduksi dalam 3 jenis perlakuan garam yang berbeda dapat dipakai dalam memahami potensi ketahanan bakteri. Keju mozzarella fresh mendukung pertumbuhan bakteri meskipun di bawah penyimpanan refrigator, dengan pengaruh minimum pada penambahan 2% garam. Bakteri aerob pada keju mozzarella meningkat antara minggu ke 2 dan 4 selama penyimpanan, namun keju dengan penambahan bakteri tidak termasuk dalam coliform atau psikofil. Lebih lanjut, penambahan chitosan pada keju mozzarella yang disimpan dalam konsentrasi koliform dapat memperpanjang masa simpan keju tersebut.



DAFTAR PUSTAKA


Altieri, C., Scrocco, C., Sinigagila, M., dan Nobile, M.A 2005. Use of Chitosan to Prolong Mozzarella Cheese Shelf Life. J. Dairy Scl. 88:2683-2688
Bishop, J.R, Smukowski, M. 2006. Storage Temperatures Necessary to Maintain Cheese Safety. Food Protection Trends, Vol. 26, No. 10, 714–724
Ganesan, B., Irish, D.A., Brothersen, C., and McMahon, D.J 2012. Evaluation of Microbial Survival Post-Incidence on Fresh Mozzarella Cheese. J. Dairy Scl. 95:6891-6896
Ledenbach, L.H and Marshall, R.T. 2010. Microbiological Spoilage of dairy Products. Springer, ISBN: 978-1-4419-0825-4
Winarwi. 2006. Uji Viabilitas Bakteri dan Aktivitas Enzim bakteri Proteolitik pada Media Carrier Bekatul. Skripsi. Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar