MAKALAH
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
STUDI
FAKTOR PSIKOMETRIK DARI UTRECHT
HOMESICKNESS SCALE (UHS) PADA MAHASISWA BARU ASAL TURKI
CHOLILIA
ABADIATUL MASRUROH
B251140021
SEKOLAH
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI
KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS
KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2014
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Kemajuan
teknologi dan globalisasi telah membentuk kehidupan modern, dimana mobilitas
dan interaksi antar umur dan kelompok masyarakat yang berbeda semakin meningkat.
Semakin banyak orang yang meningkatkan interaksi mereka dan social mobile baik dalam waktu singkat
maupun lama. Namun, penyesuaian terhadap lifestyle yang baru yang menjadikan
interaksi lebih berbeda dan social mobile
dapat menjadi problem bagi orang yang merindukan masa lalu, kenangan masa
lalu, rumah, dan teman (Duru dan Balkis 2013).
Perasaan yang tidak diinginkan dan
kenginan untuk kembali ke rumah asal disebut dengan istilah homesick, terlebih ketika terjadi pada
mahasiswa, hal ini terjadi pada awal mereka jauh dari rumah. Mahasiswa yang
menderita homesick kemungkinan
membutuhkan pertolongan secara psikologis, dorongan, dan arahan untuk
meringankan, jika tidak dicegah, perasaan homesick
akan menghalangi keberhasilan akademik dan akan muncul lagi ketika awal meniti
karir (Duru dan Balkis 2013). Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap
homesick di kalangan mahasiswa
sehingga dampak negatif dari homesick
tidak akan terjadi baik ketika dalam masa belajar maupun ketika meniti karir.
Rumusan
Masalah
Permasalahan
yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
ü Bagaimana
faktor psikometrik dari UHS yang diadaptasikan pada mahasiswa Turki?
ü Bagaimana
efek lingkungan
terhadap homesick?
ü Bagaimana efek perbedaan budaya atau masyarakat terhadap homesick?
ü Bagaimana efek keadaan
psikologis terhadap homesick?
Tujuan
Adapun tujuan
dari pembelajaran ini adalah untuk
·
Memeriksa komponen psikometrik UHS
dengan
mahasiswa TurkI sebagai sampel
·
Memahami efek lingkungan
terhadap homesick
·
Memahami
efek perbedaan budaya atau masyarakat terhadap homesick
·
Memahami
efek keadaan psikologis terhadap homesick.
TINJAUAN
PUSTAKA
Konsep
Homesick
Adaptasi
merupakan suatu suatu hal yang menarik untuk dibicarakan di zaman modern ini.
Rentan waktu yang lama untuk tinggal dan menempati suatu tempat dimana
seseorang dilahirkan merupakan kenangan di masa lalu. Di masa sekarang,
pendidikan, profesi, dan aktivitas rekreasi membuat seseorang jauh dari
lingkungan rumah (asal) dan membawanya berinteraksi dengan orang di lain tempat
dan berbeda budaya baik untuk waktu singkat maupun waktu yang lama. Program
pertukaran pelajar internasional, migrasi, dan wisata internasional membuat
orang tersebut kehilangan waktu dengan keluarga dimana hal ini belum pernah dia
lakukan sebelumnya. Selain itu, di dunia ini juga terdapat seorang atau suatu
kelompok pengungsi, dimana mereka dipaksa untuk meninggalkan rumah atau Negara
mereka dengan berbagai alas an dan juga orang-orang yang harus menginap di
rumah sakit dan asrama. Singkatnya, orang modern harus mempersiapkan diri untuk
keluar dari lingkungan asal dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Terpisah dari lingkungan keluarga mungkin mendorong reaksi komplek dengan
karakteristik yang disertai emosional, somatik, dan perilaku yang disebut
dengan Homsickness (van Tilburg
2005).
Kuliah
merupakan salah satu perubahan yang menarik yang dialami oleh sebagian besar
remaja. Mahasiswa diharuskan untuk meninggalkan rumah, keluarga, teman-teman
dan harus bergabung dengan masyarakat yang baru dengan aturan, ekspektasi, dan
kesempatan yang berbeda. Bagi sebagian mahasiswa, hal ini merupakan sesuatu
yang menyenangkan dan menarik, tetapi untuk sebagian yang lain hal ini dapat
menjadi sesuatu yang menakutkan dan seringkali perasaan sepi dan homesick membuat mereka sangat sulit
untuk melewati semester awal (Grimes, 2007).
Homesickness biasanya
terjadi pada mahasiswa, tetapi hal ini juga biasanya terjadi secara singkat. Homesickness, secara singkat, merupakan
perasaan tidak menyenangkan ketika seseorang tidak bersama keluarga atau teman.
Perasaan tersebut merupakan reaksi alami karena ketidakadaan keluarga, teman,
dan keadaan sekitar yang tidak familiar. Namun, keadaan ini sulit untuk
dilalui. Mahasiswa yang mengalami homesick
biasanya menujukkan gejala fisik seperti depresi, dan kegelisahan, serta
kesulitan dalam mengingat dan konsentrasi. Peningkatan kegelisahan sosial dan
kurangnya support dari orang di sekitar juga memacu homesickness dengan tingkat tinggi. Gejala-gejala tersebut dapat
bertambah atau berkurang berdasarkan perbedaaan macam homesickness, namun sebenarnya gejala-gejala tersebut tidak dapat
dihindari atau ditolak (Grimes, 2007).
Homesickness juga lebih
menonjol terjadi pada mahasiswa remaja yang baru masuk ke kampus atau asrama
pertama kali. Gejala-gejala dari homesickness
dapat menggganggu mahasiswa dalam masa penyesuaian diri terhadap lingkungan
barunya dan dapat menjadi masalah sosial dan akademik. Homesickness sangat terbukti terjadi pada mahasiswa internasional,
karena adanya perbedaan budaya dan keadaan sekitar yang menyebabkan mereka
lebih rindu pada keluarga mereka. Penyesuaian untuk mahasiswa internasional
lebih besar sehingga masalah sosial dan akademik yang mereka alami akan lebih
besar (Poyrazli and Lopez 2007).
Faktor
yang Berpengaruh terhadap Homesickness
Faktor
Intrapersonal
Umur dan jenis
kelamin berpengaruh terhadap Homesickness
pada mahasiswa internasional yang tidak disupport secara konsisten. Namun,
kelancaran berbahasa inggris menjadi salah satu faktor penting. Kelancaran
berbahasa inggris secara negatif berhubungan dengan stress pada saat proses
penyesuaian diri oleh mahasiswa internasional di US. Keahlian dalam berbahasa
inggris juga secara signifikan diprediksi berpengaruh terhadap Homesickness pada mahasiswa
internasional (Kegel 2009). Greenland dan Brown (2005) berpendapat bahwa
kemampuan ekspektasi mahasiswa pada kemampuan bahasa mereka kemungkinan
menambah stress penyesuaian diri. Terlebih lagi, kemampuan bahasa inggris bukan
mediator antara dukungan sosial dan stress penyesuaian diri (Poyrazli and Lopez
2007).
Beberapa
penelitian telah mempelajari berbagai variable personal yang mempengaruhi homesickness pada mahasiswa
internasional. Dalam sebuah studi, tingginya neuroticism dan tingginya
keterbukaan terhadap pengalaman berhubungan secara signifikan terhadap
tingginya stress karena penyesuaian diri pada mahasiswa turki di US.
Maladaptive perfectionism juga secara positif berhubungan dengan stress
penyesuaian diri dalam studi pada mahasiswa China internasional (Wei et al. 2007).
Faktor
Interpersonal
Hubungan
interpersonal secara kualitas lebih banyak terjadi daripada secara kuantitas
pada mahsiswa internasional yang homesickness.
Sebaliknya pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rajapaksa and Dundes
(2003) ditemukan bahwa disamping mahasiswa internasional tidak memiliki teman
dekat, jumlah teman juga berhubungan dengan penyesuaian. Selanjutnya, jumlah
teman dekat merupakan salah satu predictor dimana mahasiswa internasional
merasa puas dengan hubungan sosial mereka. Di sisi lain, keterhubungan berhubungan
secara negatif dengan kedua faktor baik stress penyesuaian diri maupun homesickness di antara mahasiswa
internasional (Duru and Poyrazli 2007). Selain itu, korelasi negatif telah
dikembangkan antara stress penyesuaian diri dan dukungan sosial.
Bukti lain
menyebutkan bahwa interaksi dengan masyarakat Negara asal merupakan salah satu
pengalaman yang sangat berbeda bagi mahasiswa internasional. Dalam studi yang
dilakukan pada mahasiswa internasional New Zealand, interaksi yang lebih sering
dengan masyarakat Negara asal
berhubungan secara signifikan dalam menurunkan homesickness. Selain itu, Poyrazli et al. (2004) menemukan bahwa mahasiswa internasional di US yang
memiliki kebiasaan bersosialisasi mahasiswa internasional lain memiliki stress
penyesuaian diri yang lebih besar. Banyak mahasiswa dilaporkan kekurangan
dukungan sosial ketika memiliki stress penyesuaian diri yang lebih besar
daripada mahasiswa yang sering berinteraksi dengan orang Amerika dan
non-Amerika secara seimbang (Poyrazli et
al. 2004).
Sifat
Psikometrik dalam UHS
Utrech Homecsickness Scale
(UHS) dikembangkan oleh Stroebe et al. pada tahun 2002 untuk mempelajari homesickness di antara dua budaya
berbeda di Belanda dan UK. UHS terdiri dari 20 item dimana setiap 4 pertanyaan
mengevaluasi 5 faktor, termasuk rindu keluarga, kesulitan dalam penyesuaian
diri, rindu sahabat, kesepian, dan perenungan (melamunkan) segala sesuatu
tentang rumah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Strobe et al., partisipan diwawancarai untuk menetukan tingkat dari setiap
item berdasarkan perasaan yang mereka rasakan dalam satu waktu selama 4 minggu.
Item-item tersebut diberi skor 5 poin Lykert-type
scaleyang mana skor tertinggi menyatakan level tertinggi homesickness. Untuk partisipan dari
Belanda, koefisien faktor internal untuk total homesickness adalah 0.94 yang dideterminasi dengan Crobach’s alpha untuk setiap
subdimensinya yaitu 0.90 yang rindu keluarga, 0.88 kesulitan dalam penyesuaian
diri, 0.87 rindu sahabat, 0.85 kesepian, dan 0.80 terbayang segala sesuatu
tentang rumah. Sementara untuk partisipan dari UK, koefisien total homesickness sebesar 0.93 dimana 0.85
rindu rumah, 0.84 kesulitan dalam penyesuaian diri, 0.78 rindu sahabat, 0.84
kesepian, dan 0.86 selalu teringat akan keadaan rumah (Stroebe et al. 2002).
Keadaan
psikometrik selalu menjadi bahan yang dipertanyakan dalam UHS pada partisipan
atau mahasiswa dengan budaya dan Negara yang berbeda. Watt dan Badger
menggunakan karakteristik ini pada tahun 2009 untuk mahasiswa internasional di
berbagai universitas di Australia yaitu menggunakan 15 item untuk 5 faktor.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Ejei et
al. (2008) untuk mempelajari homesickness
yang terjadi pada mahasiswa Persia di Universitas di Iran dengan 36 item
dan 5 faktor.
PEMBAHASAN
Utrecht
Homesickness Scale (UHS) pada
Mahasiswa di Universitas Turki
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Duru
dan Balkis (2013) membuktikan bahwa dorongan psikometrik dapat digunakan dalam
memahami tingkat homesickness pada
mahasiswa baru asal Turki dalam lima dimensi dan 18 point. Hasil penelitian
juga menunjukkan bahwa nilai konsistensi yang tinggi dan kepercayaan yang dapat
diterima. Selain itu, hasil analisis validitas dari UHS juga memiliki hubungan
positif terhadap kesepian (kesepian)
dan berhubungan negatif dengan dorongan sosial (social support), keterhubungan sosial (social connectedness), dan kepuasan terhadap hidup sebagai harapan
(satisfaction with life as expected).
Pada dasarnya, hasil tersebut menunjukkan bahwa UHS merupakan skala terpercaya
dan valid yang dapat digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan homesickness di antara mahasiswa baru di
Turki (Duru & Balkis 2013).
Peneliti menerapkan faktor eksplorasi
dan faktor konfirmasi dalam skala tersebut untuk menganalisis pembuatan
faktor-faktor tersebut. Penemuan dalam analisis faktor eksplorasi memberikan
informasi bahwa kelima model yang direplikasikan pada mahasiswa baru Turki yang
mendorong validitas pembuatan skala ini tidak berbeda dengan bentuk skala yang
asli. Peneliti menyatakan bahwa kisaran faktor percobaan mulai dari 0.55 hingga
0.91 dan kelima faktor tersebut menjelaskan 73,25% dari seluruh variasi, dimana
jumlah poin korelasi berkisar antara
0.25 sampai 0.67. selain itu, hasil dari analisis faktor konfirmasi menujukkan
bahwa UHS memiliki lima faktor. Selama pengujian diagram alur dan output pada
korelasi majemuk kubik, ada satu item yang berpengaruh sangat lemah telah
dihilangkan dari subskala. Selanjutnya peneliti malakukan analisis ulang.
Secara keseluruhan, indeks yang cocok dalam pengujian ini menunjukkan bahwa
model yang digunakan juga cocok dengan data (Duru & Balkis 2013). Hasil
yang segaris dengan penelitian sebelumnya memberikan implementasi dari analisis
faktor eksplorasi dan analisis faktor konfirmasi (Ejei et al.2008; Stroebe et al.
2002).
Lebih lanjut, UHS ini dihubungkan dengan
ukuran kesepian (loneliness),
dukungan sosial (social support), keterhubungan
soaial (social connectedness), dan
kepuasan dalam hidup (satisfaction of
life). Selanjutnya, penelitian ini mevaluasi secara umum bahwa UHS
merupakan skala yang reliable dan
valid untuk penelitian selanjutnya yang menguji homesickness pada mahasiswa baru Universitas di Turki (Duru &
Balkis 2013).
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
dimensi dari homesickness antara jenis kelamin mahasiswa (laki-laki dan
perempuan). Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan memiliki level yang
lebih tinggi terhadap kerinduan pada rumah daripada mahasiswa laki-laki.
Penemuan juga melaporkan bahwa mahasiswa laki-laki lebih sulit dalam
penyesuaian diri dan lebih sering ingat akan suasana rumah dibandingkan
mahasiswa perempuan (Duru & Balkis 2013). Hasil penelitian yang dilakukan Stroebe
et al. (2002) menujukkan
bahwa mahasiswa perempuan di UK lebih besar mengalami homesickness daripada mahasiswa laki-laki. Watt
dan Badger (2009) juga menemukan bahwa mahasiswa perempuan lebih banyak
mengalami homesickness daripada
mahasiwa laki-laki.
Tabel
3.1. Factor Loadings untuk Analisis
Faktor Eksplorasi UHS
Tabel
3.2. Korelasi Bivariate antar
Interval
Efek
Lingkungan Terhadap Homesick
Sukses atau tidaknya penyesuaian diri
terhadap lingkungan universitas yang baru dapat membantu atau menghalangi
terjadinya homesick (Willis et al. 2003). Dorongan akademik juga
dapat membahayakan mahasiswa internasional yaitu mahasiswa mudah terkena steress.
Hipotesis yang mendorong teori tersebut telah dipaparkan pada penelitian
tentang mahasiswa China di Inggris, dimana dorongan akademik berhubungan dengan
meningkatnya homesick 2 bulan setelah
mereka tinggal.
Penelitian juga telah dipisah tentang bagaimana
meningkatkan waktu penyesuaian diri terhadap budaya baru di US pada mahasiswa
internasional yang mengalami stress. Semakin lama mahasiswa tersebut tinggal di
suatu tempat berhubungan dengan penurunan tingkat stress terhadap penyesuaian
diri dalam dua penelitian, yaitu oleh Wilton dan Constantine pada tahun 2003
dan oleh Ying 2005. Namun, penelitian terhadap mahasiswa Jepang di Inggris
menunjukkan peningkatan stress secara signifikan antara 2 minggu hingga 8 bulan
(Greenland dan Brown 2005). Dua penelitian yang lain menunjukkan ketiadaan
hubungan antara lama masa tinggal dengan homesickness
atau stress penyesuaian diri (Kegel 2009).
Efek
Perbedaan Budaya Terhadap Homesick
Dalam sebuah penelitian, wilayah dari
Negara asal mencatat lebih dari 11,4% terdapat perbedaan skor stress
penyesuaian diri dari mahasiswa Asia, Amerika Tengah dan Latin, Afrika, dan
Eropa. Data tersebut menyatakan bahwa semakin banyaknya perbedaan antara budaya
Negara asal dan Negara tempat belajar, menyebabkan semakin banyaknya tingkat homesick dan stress penyesuaian diri (Ye
2005). Singkatnya, mahasiswa internasional Asia menunjukkan stress penyesuaian
diri yang lebih kuat daripada mahasiswa internasional Eropa di US (Poyrazli et al. 2004). Sebuah penelitian juga
menunjukkan bahwa sebanyak 94,9% mahasiswa internasional China di Inggris
mengalami homesick. Peneliti
memaparkan bahwa hubungan kekeluargaan yang kuat dalam budaya China kemungkinan
berkontribusi terhadap penyebaran homesick
(Kegel 2009).
Meskipun secara statistik mahasiswa
Internasional Asia paling beresiko terhadap homesick,
dalam sebuah penelitian mahasiswa internasional Afrika ternyata lebih
menunjukkan stress penyesuaian diri daripada mahasiswa internasional atau
mahasiswa Amerika Latin. Mahasiswa Afrika juga lebih banyak mengalami depresi
dan terbiasa menyendiri disbanding kelompok yang lain. Berdasarkan penelitian
kualitatif, Constantine et al. (2004)
menyimpulkan bahwa latar belakang budaya mahasiswa internasional Afrika
kemungkinan lebih berarti dan menekankan pada pendekatan hubungan interpersonal
daripada budaya Amerika.
Meskipun mahasiswa internasional Amerika
Latin menunjukkan stress penyesuaian diri lebih rendah daripada mahasiswa
Afrika, kelompok ini tetap menunjukkan stress penyesuaian diri yang lebih
tinggi daripada mahasiswa Asia. Mahasiswa Amerika Latin juga memiliki tingkat
stress psikologi yang lebih tinggi disbanding mahasiswa inetrnasional Asia
dalam penelitian terpisah yang dilakukan oleh Wilton dan Constantine (2003).
Sehingga mahasiswa internasional Amerika Latin melakukan persembunyian diri
terhadap masyarakat dibanding mahasiswa internasional Afrika atau Asia.
Efek
Homesick Terhadap Keadaan Psikologis
Efek negatif homesickness
terhadap keadaan psikologis telah banyak dilaporkan. Homesickness secara negatif berpengaruh terhadap hasil akademik
mahasiswa Stroebe et al. 2002) dan
stress penyesuaian diri dapat berimplikasi tehadap masalah makan dan tidur,
kurang energi, dan sakit kepala (Ye, 2005). Lebih dari itu, banyak penelitian
yang telah memaparkan hubungan homesickness
atau stress penyasuaian diri dengan depresi. Ying (2005), Constantine et al. (2004), dan Wei et al. (2007) membuktikan bahwa terdapat
hubungan positif antara homesickness
dengan depresi pada mahasiswa Asia, Afrika, dan Amerika Latin di US. Dalam
sebuah penelitian, stress penyesuaian diri secara signifikan berhubungan dengan
skor depresi terhadap kemampuan berbahasa Inggris, sex, dan asal daerah (Constantine
et al. 2004). Terlebih lagi, efek terburuk dari homesickness terhadap depresi juga telah
banyak dikemukakan, termasuk bunuh diri (Willis et al. 2003).
SIMPULAN
Pengembangan UHS (Utrecht Homesick
Scale) yang diadaptasikan pada mahasiswa asal Turki dapat digunakan oleh
peneliti dan konsultan untuk mengumpulkan data deskriptif dan untuk mengamati
perkembangan pelajar di lingkungan kampus. UHS dapat juga berguan sebagai alat
selama konseling berlangsung untuk membantu konsultandan pelajar menjadi lebih
waspada terhadap tingkat homesick
yang diderita oleh pelajar. Kemungkinan lain, UHS dapat digunakan sebagai alat
screening untuk mengidentifikasi beberapa masalah sehingga pencarian informasi
penting tentang pelajar dapat membantu mereka ketika kesulitan dalam
membiasakan diri dan merasakan homesick.
DAFTAR
PUSTAKA
Duru, E., and Balkis, M. 2013. The psychometric properties of the Utrecht
Homesickness Scale: A study of reliability and validity. Egitim Arastirmalari-Eurasian
Journal of Educational Research, 52, 61-78.
Duru,
E., and Poyrazli, S. 2007. Personality
Dimensions, Psychosocial-Demographic Variables, and English Language Competency
in Predicting Level of Acculturative Stress among Turkish International
Students. International Journal of
Stress Management, 14, 99-110.
Ejei, J., Dehghani, M., Ganjavi, A., and
Khodapanahi, M.K. 2008. Validation of
Utrecht Homesickness Scale in Students. Journal of Behavioral Sciences, 2 (1), 1-12
Grimes, K. 2007. Coming to College: Correlations between Lonelines, Homesickness, and
Spiritual Well-Being. Research Seminar Course. John Brown University
Poyazli,
S., and Lopez, M. D. 2007. An Exploratory
Study of Perceived Discrimination and Homesickness: A Comparison of
International Students and American Students. The Journal of Psychology 141(3), 263-280
Poyrazli,
S., and Lopez, M. D. 2007. An Exploratory
Study of Perceived Discrimination and Homesickness: A Comparison Of
International Students And American Students. The Journal of Psychology, 141, 263-280.
Poyrazli,
S., Kavanaugh, P. R., Baker, A., and Al-Timimi, N. (2004). Social Support and Demographic Correlates of Acculturative Stress in
International Students. Journal of
College Counseling, 7, 73-82.
Rajapaksa,
S., and Dundes, L. 2003. It’s a long Way
Home: International Student Adjustment to Living in the United States. College Student Retention, 4,
15-28.
Stroebe, M., Van Vliet, T., Hewstone, M., and
Willis, H. 2002. Homesickness among
Students in Two Cultures: Antecedents and Consequences. British Journal of Psychology,
93, 147-168
Van Tilburg, M. 2005. Psychological Aspects of Geographical Movement. Amsterdam Universit
Press
Watt, S. E., Badger, A. J. 2009. Effects Of Social Belonging On Homesickness:
Application of the Belongingness Hypothesis. Personality and Social Psychology Bulletin, 35, 516-530
Tidak ada komentar:
Posting Komentar