Jumat, 14 November 2014

ILMU KESEHATA MASYARAKAT - Homesickness



MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


STUDI FAKTOR PSIKOMETRIK DARI UTRECHT HOMESICKNESS SCALE (UHS) PADA MAHASISWA BARU ASAL TURKI







CHOLILIA ABADIATUL MASRUROH
B251140021




















SEKOLAH PASCASARJANA
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014


PENDAHULUAN


Latar Belakang

Kemajuan teknologi dan globalisasi telah membentuk kehidupan modern, dimana mobilitas dan interaksi antar umur dan kelompok masyarakat yang berbeda semakin meningkat. Semakin banyak orang yang meningkatkan interaksi mereka dan social mobile baik dalam waktu singkat maupun lama. Namun, penyesuaian terhadap lifestyle yang baru yang menjadikan interaksi lebih berbeda dan social mobile dapat menjadi problem bagi orang yang merindukan masa lalu, kenangan masa lalu, rumah, dan teman (Duru dan Balkis 2013).
Perasaan yang tidak diinginkan dan kenginan untuk kembali ke rumah asal disebut dengan istilah homesick, terlebih ketika terjadi pada mahasiswa, hal ini terjadi pada awal mereka jauh dari rumah. Mahasiswa yang menderita homesick kemungkinan membutuhkan pertolongan secara psikologis, dorongan, dan arahan untuk meringankan, jika tidak dicegah, perasaan homesick akan menghalangi keberhasilan akademik dan akan muncul lagi ketika awal meniti karir (Duru dan Balkis 2013). Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap homesick di kalangan mahasiswa sehingga dampak negatif dari homesick tidak akan terjadi baik ketika dalam masa belajar maupun ketika meniti karir.


Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
ü Bagaimana faktor psikometrik dari UHS yang diadaptasikan pada mahasiswa Turki?
ü Bagaimana efek lingkungan terhadap homesick?
ü Bagaimana efek perbedaan  budaya atau masyarakat terhadap homesick?
ü Bagaimana efek keadaan psikologis terhadap homesick?


Tujuan

Adapun tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk
·      Memeriksa komponen psikometrik UHS dengan mahasiswa TurkI sebagai sampel
·      Memahami efek lingkungan terhadap homesick
·      Memahami efek perbedaan budaya atau masyarakat terhadap homesick
·      Memahami efek keadaan psikologis terhadap homesick.





TINJAUAN PUSTAKA


Konsep Homesick

Adaptasi merupakan suatu suatu hal yang menarik untuk dibicarakan di zaman modern ini. Rentan waktu yang lama untuk tinggal dan menempati suatu tempat dimana seseorang dilahirkan merupakan kenangan di masa lalu. Di masa sekarang, pendidikan, profesi, dan aktivitas rekreasi membuat seseorang jauh dari lingkungan rumah (asal) dan membawanya berinteraksi dengan orang di lain tempat dan berbeda budaya baik untuk waktu singkat maupun waktu yang lama. Program pertukaran pelajar internasional, migrasi, dan wisata internasional membuat orang tersebut kehilangan waktu dengan keluarga dimana hal ini belum pernah dia lakukan sebelumnya. Selain itu, di dunia ini juga terdapat seorang atau suatu kelompok pengungsi, dimana mereka dipaksa untuk meninggalkan rumah atau Negara mereka dengan berbagai alas an dan juga orang-orang yang harus menginap di rumah sakit dan asrama. Singkatnya, orang modern harus mempersiapkan diri untuk keluar dari lingkungan asal dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Terpisah dari lingkungan keluarga mungkin mendorong reaksi komplek dengan karakteristik yang disertai emosional, somatik, dan perilaku yang disebut dengan Homsickness (van Tilburg 2005).
Kuliah merupakan salah satu perubahan yang menarik yang dialami oleh sebagian besar remaja. Mahasiswa diharuskan untuk meninggalkan rumah, keluarga, teman-teman dan harus bergabung dengan masyarakat yang baru dengan aturan, ekspektasi, dan kesempatan yang berbeda. Bagi sebagian mahasiswa, hal ini merupakan sesuatu yang menyenangkan dan menarik, tetapi untuk sebagian yang lain hal ini dapat menjadi sesuatu yang menakutkan dan seringkali perasaan sepi dan homesick membuat mereka sangat sulit untuk melewati semester awal (Grimes, 2007).
Homesickness biasanya terjadi pada mahasiswa, tetapi hal ini juga biasanya terjadi secara singkat. Homesickness, secara singkat, merupakan perasaan tidak menyenangkan ketika seseorang tidak bersama keluarga atau teman. Perasaan tersebut merupakan reaksi alami karena ketidakadaan keluarga, teman, dan keadaan sekitar yang tidak familiar. Namun, keadaan ini sulit untuk dilalui. Mahasiswa yang mengalami homesick biasanya menujukkan gejala fisik seperti depresi, dan kegelisahan, serta kesulitan dalam mengingat dan konsentrasi. Peningkatan kegelisahan sosial dan kurangnya support dari orang di sekitar juga memacu homesickness dengan tingkat tinggi. Gejala-gejala tersebut dapat bertambah atau berkurang berdasarkan perbedaaan macam homesickness, namun sebenarnya gejala-gejala tersebut tidak dapat dihindari atau ditolak (Grimes, 2007).
Homesickness juga lebih menonjol terjadi pada mahasiswa remaja yang baru masuk ke kampus atau asrama pertama kali. Gejala-gejala dari homesickness dapat menggganggu mahasiswa dalam masa penyesuaian diri terhadap lingkungan barunya dan dapat menjadi masalah sosial dan akademik. Homesickness sangat terbukti terjadi pada mahasiswa internasional, karena adanya perbedaan budaya dan keadaan sekitar yang menyebabkan mereka lebih rindu pada keluarga mereka. Penyesuaian untuk mahasiswa internasional lebih besar sehingga masalah sosial dan akademik yang mereka alami akan lebih besar (Poyrazli and Lopez 2007).


Faktor yang Berpengaruh terhadap Homesickness

Faktor Intrapersonal
Umur dan jenis kelamin berpengaruh terhadap Homesickness pada mahasiswa internasional yang tidak disupport secara konsisten. Namun, kelancaran berbahasa inggris menjadi salah satu faktor penting. Kelancaran berbahasa inggris secara negatif berhubungan dengan stress pada saat proses penyesuaian diri oleh mahasiswa internasional di US. Keahlian dalam berbahasa inggris juga secara signifikan diprediksi berpengaruh terhadap Homesickness pada mahasiswa internasional (Kegel 2009). Greenland dan Brown (2005) berpendapat bahwa kemampuan ekspektasi mahasiswa pada kemampuan bahasa mereka kemungkinan menambah stress penyesuaian diri. Terlebih lagi, kemampuan bahasa inggris bukan mediator antara dukungan sosial dan stress penyesuaian diri (Poyrazli and Lopez 2007).
Beberapa penelitian telah mempelajari berbagai variable personal yang mempengaruhi homesickness pada mahasiswa internasional. Dalam sebuah studi, tingginya neuroticism dan tingginya keterbukaan terhadap pengalaman berhubungan secara signifikan terhadap tingginya stress karena penyesuaian diri pada mahasiswa turki di US. Maladaptive perfectionism juga secara positif berhubungan dengan stress penyesuaian diri dalam studi pada mahasiswa China internasional (Wei et al. 2007).

Faktor Interpersonal
Hubungan interpersonal secara kualitas lebih banyak terjadi daripada secara kuantitas pada mahsiswa internasional yang homesickness. Sebaliknya pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rajapaksa and Dundes (2003) ditemukan bahwa disamping mahasiswa internasional tidak memiliki teman dekat, jumlah teman juga berhubungan dengan penyesuaian. Selanjutnya, jumlah teman dekat merupakan salah satu predictor dimana mahasiswa internasional merasa puas dengan hubungan sosial mereka. Di sisi lain, keterhubungan berhubungan secara negatif dengan kedua faktor baik stress penyesuaian diri maupun homesickness di antara mahasiswa internasional (Duru and Poyrazli 2007). Selain itu, korelasi negatif telah dikembangkan antara stress penyesuaian diri dan dukungan sosial.
Bukti lain menyebutkan bahwa interaksi dengan masyarakat Negara asal merupakan salah satu pengalaman yang sangat berbeda bagi mahasiswa internasional. Dalam studi yang dilakukan pada mahasiswa internasional New Zealand, interaksi yang lebih sering dengan masyarakat Negara asal  berhubungan secara signifikan dalam menurunkan homesickness. Selain itu, Poyrazli et al. (2004) menemukan bahwa mahasiswa internasional di US yang memiliki kebiasaan bersosialisasi mahasiswa internasional lain memiliki stress penyesuaian diri yang lebih besar. Banyak mahasiswa dilaporkan kekurangan dukungan sosial ketika memiliki stress penyesuaian diri yang lebih besar daripada mahasiswa yang sering berinteraksi dengan orang Amerika dan non-Amerika secara seimbang (Poyrazli et al. 2004).



Sifat Psikometrik dalam UHS

Utrech Homecsickness Scale (UHS) dikembangkan oleh Stroebe  et al. pada tahun 2002 untuk mempelajari homesickness di antara dua budaya berbeda di Belanda dan UK. UHS terdiri dari 20 item dimana setiap 4 pertanyaan mengevaluasi 5 faktor, termasuk rindu keluarga, kesulitan dalam penyesuaian diri, rindu sahabat, kesepian, dan perenungan (melamunkan) segala sesuatu tentang rumah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Strobe et al., partisipan diwawancarai untuk menetukan tingkat dari setiap item berdasarkan perasaan yang mereka rasakan dalam satu waktu selama 4 minggu. Item-item tersebut diberi skor 5 poin Lykert-type scaleyang mana skor tertinggi menyatakan level tertinggi homesickness. Untuk partisipan dari Belanda, koefisien faktor internal untuk total homesickness adalah 0.94 yang dideterminasi dengan Crobach’s alpha untuk setiap subdimensinya yaitu 0.90 yang rindu keluarga, 0.88 kesulitan dalam penyesuaian diri, 0.87 rindu sahabat, 0.85 kesepian, dan 0.80 terbayang segala sesuatu tentang rumah. Sementara untuk partisipan dari UK, koefisien total homesickness sebesar 0.93 dimana 0.85 rindu rumah, 0.84 kesulitan dalam penyesuaian diri, 0.78 rindu sahabat, 0.84 kesepian, dan 0.86 selalu teringat akan keadaan rumah (Stroebe et al. 2002).
Keadaan psikometrik selalu menjadi bahan yang dipertanyakan dalam UHS pada partisipan atau mahasiswa dengan budaya dan Negara yang berbeda. Watt dan Badger menggunakan karakteristik ini pada tahun 2009 untuk mahasiswa internasional di berbagai universitas di Australia yaitu menggunakan 15 item untuk 5 faktor. Penelitian lain juga dilakukan oleh Ejei et al. (2008) untuk mempelajari homesickness yang terjadi pada mahasiswa Persia di Universitas di Iran dengan 36 item dan 5 faktor.



PEMBAHASAN


Utrecht Homesickness Scale (UHS) pada Mahasiswa di Universitas Turki


Hasil penelitian yang dilakukan oleh Duru dan Balkis (2013) membuktikan bahwa dorongan psikometrik dapat digunakan dalam memahami tingkat homesickness pada mahasiswa baru asal Turki dalam lima dimensi dan 18 point. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nilai konsistensi yang tinggi dan kepercayaan yang dapat diterima. Selain itu, hasil analisis validitas dari UHS juga memiliki hubungan positif terhadap kesepian (kesepian) dan berhubungan negatif dengan dorongan sosial (social support), keterhubungan sosial (social connectedness), dan kepuasan terhadap hidup sebagai harapan (satisfaction with life as expected). Pada dasarnya, hasil tersebut menunjukkan bahwa UHS merupakan skala terpercaya dan valid yang dapat digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan homesickness di antara mahasiswa baru di Turki (Duru & Balkis 2013).
Peneliti menerapkan faktor eksplorasi dan faktor konfirmasi dalam skala tersebut untuk menganalisis pembuatan faktor-faktor tersebut. Penemuan dalam analisis faktor eksplorasi memberikan informasi bahwa kelima model yang direplikasikan pada mahasiswa baru Turki yang mendorong validitas pembuatan skala ini tidak berbeda dengan bentuk skala yang asli. Peneliti menyatakan bahwa kisaran faktor percobaan mulai dari 0.55 hingga 0.91 dan kelima faktor tersebut menjelaskan 73,25% dari seluruh variasi, dimana jumlah poin korelasi  berkisar antara 0.25 sampai 0.67. selain itu, hasil dari analisis faktor konfirmasi menujukkan bahwa UHS memiliki lima faktor. Selama pengujian diagram alur dan output pada korelasi majemuk kubik, ada satu item yang berpengaruh sangat lemah telah dihilangkan dari subskala. Selanjutnya peneliti malakukan analisis ulang. Secara keseluruhan, indeks yang cocok dalam pengujian ini menunjukkan bahwa model yang digunakan juga cocok dengan data (Duru & Balkis 2013). Hasil yang segaris dengan penelitian sebelumnya memberikan implementasi dari analisis faktor eksplorasi dan analisis faktor konfirmasi (Ejei et al.2008; Stroebe et al. 2002).
Lebih lanjut, UHS ini dihubungkan dengan ukuran kesepian (loneliness), dukungan sosial (social support), keterhubungan soaial (social connectedness), dan kepuasan dalam hidup (satisfaction of life). Selanjutnya, penelitian ini mevaluasi secara umum bahwa UHS merupakan skala yang reliable dan valid untuk penelitian selanjutnya yang menguji homesickness pada mahasiswa baru Universitas di Turki (Duru & Balkis 2013).
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dimensi dari homesickness antara jenis kelamin mahasiswa (laki-laki dan perempuan). Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan memiliki level yang lebih tinggi terhadap kerinduan pada rumah daripada mahasiswa laki-laki. Penemuan juga melaporkan bahwa mahasiswa laki-laki lebih sulit dalam penyesuaian diri dan lebih sering ingat akan suasana rumah dibandingkan mahasiswa perempuan (Duru & Balkis 2013). Hasil penelitian yang dilakukan Stroebe et al. (2002) menujukkan bahwa mahasiswa perempuan di UK lebih besar mengalami homesickness daripada mahasiswa laki-laki. Watt dan Badger (2009) juga menemukan bahwa mahasiswa perempuan lebih banyak mengalami homesickness daripada mahasiwa laki-laki.





Tabel 3.1. Factor Loadings untuk Analisis Faktor Eksplorasi UHS






Tabel 3.2. Korelasi Bivariate antar Interval 



Efek Lingkungan Terhadap Homesick

Sukses atau tidaknya penyesuaian diri terhadap lingkungan universitas yang baru dapat membantu atau menghalangi terjadinya homesick (Willis et al. 2003). Dorongan akademik juga dapat membahayakan mahasiswa internasional yaitu mahasiswa mudah terkena steress. Hipotesis yang mendorong teori tersebut telah dipaparkan pada penelitian tentang mahasiswa China di Inggris, dimana dorongan akademik berhubungan dengan meningkatnya homesick 2 bulan setelah mereka tinggal.
Penelitian juga telah dipisah tentang bagaimana meningkatkan waktu penyesuaian diri terhadap budaya baru di US pada mahasiswa internasional yang mengalami stress. Semakin lama mahasiswa tersebut tinggal di suatu tempat berhubungan dengan penurunan tingkat stress terhadap penyesuaian diri dalam dua penelitian, yaitu oleh Wilton dan Constantine pada tahun 2003 dan oleh Ying 2005. Namun, penelitian terhadap mahasiswa Jepang di Inggris menunjukkan peningkatan stress secara signifikan antara 2 minggu hingga 8 bulan (Greenland dan Brown 2005). Dua penelitian yang lain menunjukkan ketiadaan hubungan antara lama masa tinggal dengan homesickness atau stress penyesuaian diri (Kegel 2009).


Efek Perbedaan Budaya Terhadap Homesick


Dalam sebuah penelitian, wilayah dari Negara asal mencatat lebih dari 11,4% terdapat perbedaan skor stress penyesuaian diri dari mahasiswa Asia, Amerika Tengah dan Latin, Afrika, dan Eropa. Data tersebut menyatakan bahwa semakin banyaknya perbedaan antara budaya Negara asal dan Negara tempat belajar, menyebabkan semakin banyaknya tingkat homesick dan stress penyesuaian diri (Ye 2005). Singkatnya, mahasiswa internasional Asia menunjukkan stress penyesuaian diri yang lebih kuat daripada mahasiswa internasional Eropa di US (Poyrazli et al. 2004). Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa sebanyak 94,9% mahasiswa internasional China di Inggris mengalami homesick. Peneliti memaparkan bahwa hubungan kekeluargaan yang kuat dalam budaya China kemungkinan berkontribusi terhadap penyebaran homesick (Kegel 2009).
Meskipun secara statistik mahasiswa Internasional Asia paling beresiko terhadap homesick, dalam sebuah penelitian mahasiswa internasional Afrika ternyata lebih menunjukkan stress penyesuaian diri daripada mahasiswa internasional atau mahasiswa Amerika Latin. Mahasiswa Afrika juga lebih banyak mengalami depresi dan terbiasa menyendiri disbanding kelompok yang lain. Berdasarkan penelitian kualitatif, Constantine et al. (2004) menyimpulkan bahwa latar belakang budaya mahasiswa internasional Afrika kemungkinan lebih berarti dan menekankan pada pendekatan hubungan interpersonal daripada budaya Amerika.
Meskipun mahasiswa internasional Amerika Latin menunjukkan stress penyesuaian diri lebih rendah daripada mahasiswa Afrika, kelompok ini tetap menunjukkan stress penyesuaian diri yang lebih tinggi daripada mahasiswa Asia. Mahasiswa Amerika Latin juga memiliki tingkat stress psikologi yang lebih tinggi disbanding mahasiswa inetrnasional Asia dalam penelitian terpisah yang dilakukan oleh Wilton dan Constantine (2003). Sehingga mahasiswa internasional Amerika Latin melakukan persembunyian diri terhadap masyarakat dibanding mahasiswa internasional Afrika atau Asia.

Efek Homesick Terhadap Keadaan Psikologis

Efek negatif homesickness terhadap keadaan psikologis telah banyak dilaporkan. Homesickness secara negatif berpengaruh terhadap hasil akademik mahasiswa Stroebe et al. 2002) dan stress penyesuaian diri dapat berimplikasi tehadap masalah makan dan tidur, kurang energi, dan sakit kepala (Ye, 2005). Lebih dari itu, banyak penelitian yang telah memaparkan hubungan homesickness atau stress penyasuaian diri dengan depresi. Ying (2005), Constantine et al. (2004), dan Wei et al. (2007) membuktikan bahwa terdapat hubungan positif antara homesickness dengan depresi pada mahasiswa Asia, Afrika, dan Amerika Latin di US. Dalam sebuah penelitian, stress penyesuaian diri secara signifikan berhubungan dengan skor depresi terhadap kemampuan berbahasa Inggris, sex, dan asal daerah (Constantine et al.  2004). Terlebih lagi, efek terburuk dari homesickness terhadap depresi juga telah banyak dikemukakan, termasuk bunuh diri (Willis et al. 2003).

SIMPULAN



Pengembangan UHS (Utrecht Homesick Scale) yang diadaptasikan pada mahasiswa asal Turki dapat digunakan oleh peneliti dan konsultan untuk mengumpulkan data deskriptif dan untuk mengamati perkembangan pelajar di lingkungan kampus. UHS dapat juga berguan sebagai alat selama konseling berlangsung untuk membantu konsultandan pelajar menjadi lebih waspada terhadap tingkat homesick yang diderita oleh pelajar. Kemungkinan lain, UHS dapat digunakan sebagai alat screening untuk mengidentifikasi beberapa masalah sehingga pencarian informasi penting tentang pelajar dapat membantu mereka ketika kesulitan dalam membiasakan diri dan merasakan homesick.



DAFTAR PUSTAKA



Duru, E., and Balkis, M. 2013. The psychometric properties of the Utrecht Homesickness Scale: A study of reliability and validity. Egitim Arastirmalari-Eurasian Journal of Educational Research, 52, 61-78.
Duru, E., and Poyrazli, S. 2007. Personality Dimensions, Psychosocial-Demographic Variables, and English Language Competency in Predicting Level of Acculturative Stress among Turkish International Students. International Journal of Stress Management, 14, 99-110.
Ejei, J., Dehghani, M., Ganjavi, A., and Khodapanahi, M.K. 2008. Validation of Utrecht Homesickness Scale in Students. Journal of Behavioral Sciences, 2 (1), 1-12
Grimes, K. 2007. Coming to College: Correlations between Lonelines, Homesickness, and Spiritual Well-Being. Research Seminar Course. John Brown University
Poyazli, S., and Lopez, M. D. 2007. An Exploratory Study of Perceived Discrimination and Homesickness: A Comparison of International Students and American Students. The Journal of Psychology 141(3), 263-280
Poyrazli, S., and Lopez, M. D. 2007. An Exploratory Study of Perceived Discrimination and Homesickness: A Comparison Of International Students And American Students. The Journal of Psychology, 141, 263-280.
Poyrazli, S., Kavanaugh, P. R., Baker, A., and Al-Timimi, N. (2004). Social Support and Demographic Correlates of Acculturative Stress in International Students. Journal of College Counseling, 7, 73-82.
Rajapaksa, S., and Dundes, L. 2003. It’s a long Way Home: International Student Adjustment to Living in the United States. College Student Retention, 4, 15-28.
Stroebe, M., Van Vliet, T., Hewstone, M., and Willis, H. 2002. Homesickness among Students in Two Cultures: Antecedents and Consequences. British Journal of Psychology, 93, 147-168
Van Tilburg, M. 2005. Psychological Aspects of Geographical Movement. Amsterdam Universit Press
Watt, S. E., Badger, A. J. 2009. Effects Of Social Belonging On Homesickness: Application of the Belongingness Hypothesis. Personality and Social Psychology Bulletin, 35, 516-530

Tidak ada komentar:

Posting Komentar