Senin, 22 Desember 2014

Mikrobiologi Pangan Asal Hewan - PERKEMBANGAN TERKINI DETEKSI TOKSIN BAKTERI BERDASARKAN UJI ANTIBODI



MAKALAH MIKROBIOLOGI PANGAN ASAL HEWAN


PERKEMBANGAN TERKINI DETEKSI TOKSIN BAKTERI BERDASARKAN UJI ANTIBODI





MONIKA D. ANDRIANI                                            B251140011
CHOLILIA ABADIATUL MASRUROH                            B251140021















PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014



PENDAHULUAN



Latar Belakang

Analisis toksin bakteri yang akurat dan terpercaya sangat penting dalam diagnostik klinik, analisis makanan, pemantauan air, maupun sebagai tujuan biosekuriti  untuk menghindari potensi berbahaya terhadap manusia dan hewan. Toksin bakteri secara umum dikategorikan ke dalam eksotoksin (rantai peptide dan protein) yang diproduksi oleh bakteri patogen Gram positif maupun Gram negatif dan endotoksin (LPS/ lipopolisakarida) yang diproduksi oleh bakteri Gram negatif saja. Toksin tersebut secara luas mencakup berat molekuler, antara < 1000 Da hingga >100000 Da, perbedaan kandungan fisikokimia, dan penyebab berbagai gejala klinik. Berdasarkan target mereka, eksotoksin digolongkan ke dalam toksin yang berperan terhadap permukaan sel host dan toksin yang aktif secara intraseluler (Argrudin et al. 2010).
Terdapat banyak metode yang telah dikembangkan dalam beberapa dekade terakhir untuk mencapai deteksi yang selektif dan sensitif terhadap toksin bakteri, yakni meliputi pendekatan Direct dan Indirect Method. Pada satu sisi, toksin-toksin tersebut secara langsung ditangkap oleh antibodi, atau diperkirakan dengan spektrometri massa. Selain itu, berbagai fungsi toksin digunakan untuk memicu efek pada hewan atau sel, serta spesies bakteri atau gen bakteri penghasil toksin yang dapat dideteksi. Uji secara tidak langsung (indirect) dapat memberikan informasi penting, khususnya ketika mencari toksin bakteri yang tidak diketahui atau ketika uji secara langsung (direct) tidak tersedia (Senesei et al. 2010). Dalam hal ini, pengetahuan mengenai pengujian tersebut sangat penting karena merupakan salah satu cara untuk memahami bakteri secara lanjut.


Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana cara mendeteksi toksin bakteri baik secara langsung maupun tidak langsung.


Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memahami uji-uji dalam mendeteksi toksin bakteri baik secara langsung maupun tidak langsung.





TINJAUAN PUSTAKA



Toksin Bakteri

Mikroorganisme menyebabkan infeksi dengan menghasilkan sejumlah molekul yang disebut faktor virulen. Mikroba patogen berbeda yang mensintesis toksin pada awalnya dikenal sebagai faktor primer virulen yang berdampak terhadap metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada sel eukariot, selanjutnya dalam kurun waktu yang lama akan berdampak secara letal terhadap host. Berbagai gejala yang berhubungan dengan beberapa penyakit, seperti dipteria, batuk, kolera, dan disentri, semuanya berhubungan dengan aktifitas toksin yang diproduksi oleh bakteri (Payne et al. 2013).
Toksin bakteri mengakibatkan sel host mudah diserang dengan berbagai aksi, yaitu dengan merusak membran sel, menghambat sintesis protein, aktivasi respon sistem imun yang menyebabkan kerusakan seluler, menyebabkan sel lisis secara langsung, dan memfasilitasi penyebaran bakteri melalui jaringan (Payne et al. 2013). Organisme seperti Clostridium difficile, Corynebacterium diphtheria, dan Pseudomonas aeruginosa mensekresi toksin yang dapat meningkatkan berbagai jalur patogenesis pada suatu penyakit. Toksin dari C. difficile, sebagai contoh, menyebabkan toksisitas seluler melalui Glukosilasi protein G Rho dan ribosilasi ADP pada aktin, sedangkan toksin C. diphtheria, dan P. aeruginosa mengkatalis transfer ADP ribose ke faktor kedua perpanjangan (Elongation) untuk menghambat sintesis protein sel, menyebabkan kematian pada sel target. Toksin TcdB dari C. difficile menginaktivasi small GTPase Rho, Rac, dan Cdc42, dimana telah dilaporkan memicu kematian sel melalui apoptosis (Voth, Ballard 2005).
Menurut Kayser et al. (2005), toksin bakteri dibagi menjadi dua, yaitu:
1.    Eksotoksin
Eksotoksin merupakan toksin yang dikeluarkan dari tubuh bakteri. Beberapa bakteri penghasil eksotoksin ialah Corynebacterium diphteriae, Shigella dysentriae, Clostridium tetani,  Clostridium botolium, Clostridium elcbii, Vibrio Chlorea, dan beberapa strain Escherichia coli. Eksotoksin yang dikeluarkan oleh bekteri-bakteri tersebut menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh yang dinamakan toksemia. Sifat dari jenis toksin ini antara lain: mudah dilarutkan dalam air, termasuk dalam golongan protein, bersifat termolabil (jika dipanaskan pada suhu 56˚C, maka kekuatan toksin tersebut berkurang), jika diinduksikan dalam tubuh, maka tubuh dapat memproduksi antitoksin.
2.    Endotoksin
Endotoksin adalah toksin yang dikeluarkan dari sel bakteri, namun tetap diproduksi dan disimpan di dalam sel bakteri. Sifat umum dari endotoksin adalah termostabil (tahan terhadap pemanasan), menyebabkan sakit dengan gejala-gejala yang sama sehingga tidak spesifik, dan ada periode inkubasi terhadap tubuh yang terkena toksin ini. Endotoksin termasuk toksin yang sangat sulit dalam pendeteksiannya, dimana toksin tidak akan terdeteksi sebelum bakteri penghasilnya masih hidup. Oleh karena itu, sel-sel bakteri harus dimatikan terlebih dahulu sehingga materi-materi (termasuk endotoksin) dari bakteri dapat terpisah dari sel bakteri.
Selain penggolongan tersebut, terdapat pula bermacam-macam toksin bakteri yaitu:
1.    AB Toxins
Toksin ini meliputi subunit “B” pengikat (binding subunit B) yang berperan dalam pengikatan permukaan reseptor pada sel host, dan subunit “A” pengkatalis sebagai agen pengaktivasi. Hanya sel yang memperlihatkan reseptor B yang dapat dirusak oleh toksin jenis ini. Toksin AB ini dihasilkan oleh tiga jenis bakteri yaitu, Corynebacterium diphteriae penghasil toksin diptera, Vibrio cholera penghasil toksin kolera, dan Clostridium tetani sebagai penghasil toksin tetanus.
2.    Membrane Toxins
Toksin membran merupakan jenis toksin yang mengganggu sistem biologis membran sel, baik dengan merusak membran lalu berkumpul untuk membentuk pori-pori, atau dalam bentuk fosfolipase yang merusak struktur membrane secara enzimatik. Terdapat dua jenis toksin yang tergolong dalam toksin membran meliputi Alpha toxin (diproduksi oleh Clostridium perfingens) dan Lesteriolysin (dihasilkan oleh Lysteria monocytogenes).
3.    Superantigen Toxins
Toksin ini disebut Toxic shock syndrome toxin-1 (TSST-1) yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus. Antigen tersebut menstimulasi limfosit T dan makrofag untuk menghasilkan sitokin berbahaya dalam jumlah yang sangat banyak (Kayser et al.  2005).


Antibodi dan Immunoassay

Inti dari prinsip Immunoassay adalah pengenalan secara spesifik terhadap target yang ditarik oleh antibodi, yang merupakan kunci utama dalam setiap uji. Beberapa jenis antibodi telah diketahui sebagai antibodi yang dapat menarik toksin bakteri. Antibodi menggambarkan glikoprotein yang memproses dua ikatan jenis polipeptida berbeda. Kedua rantai cahaya dan rantai berat memperlihatkan variable rantai cahaya (Variable of Light/ VL) dan rantai berat (Variable of Heavy/ VH) pada akhir amino mereka, dimana bagian sisa dari polipeptida ditunjukkan oleh bagian tetap (Constant Heavy (CH) dan Constant Light (CL)). Bagian kedua rantai tersebut mengandung bagian hipervariabel, yang menggambarkan bagian pengikat antigen (Antigen Binding Site) atau biasa disebut Paratope. Setelah mengalami folding dan kombinasi rantai cahaya dan berat, hipervariabel dari suatu immunoglobulin menunjukkan struktur yang melengkapi bagian mirip molekul antigen, dimana yang menggambarkan determinan antigen atau biasa disebut Epitope (Byrne et al. 2009).
Antibodi yang diproduksi dalam sel hewan secara alami berupa antibodi poliklonal dan disintesis serta disekresi oleh sel plasma, turunan dari berbagai limfosit B. Limfosit tersebut menyatu dengan sel myeloma. Sel myeloma tersebut menyediakan gen untuk melanjutkan pembelahan sel, sementara limfosit menghasilkan gen imunoglobin fungsional. Gabungan kedua sel tersebut disebut sel hybrid atau hibridoma, dan setiap sel hibridoma menghasilkan tiruan antibodi identik, seperti antibodi monoklonal (Akiyoshi et al. 2010).
Immunoassay lebih menekankan pada kopian antibodi jenis immunoglobulin G (IgG). Setiap sel myeloma mengenali satu jenis epitope, antibodi poliklonal dapat mengikat keberadaan epitope pada antigen yang digunakan dalam imunisasi. Dalam penerapan khusus, enzim, seperti papain dan pepsin, digunakan untuk membantu antibodi intak untuk menghasilkan fragmen kecil pengikatan antigen (Zhu et al. 2014).



PEMBAHASAN


Immunoassay

Immunoassay meliputi tiga tahap penting, yaitu:
1.    Pengenalan target toksin oleh antibodi
2.    Subsekuen transduksi signal
3.    Teknik pembacaan sebagai hasil kualitatif atau kuantitatif.
Uji Kompetitif dan non-kompetitif kemungkinan dapat digolongkan ke dalam langkah yang pertama, tergantung jumlah epitope yang terdapat pada toksin. Metode kompetitif didasarkan atas kompetisi dari antigen bebas dan dilabel atau ikatan yang erat antigen terhadap terbatasnya keberadaan jumlah antibodi. Dalam banyak kasus, respon dari uji ini menggambarkan ikatan antigen yang terlabel dan selanjutnya merupakan kebalikan dari banyaknya konsentrasi antigen bebas. Uji jenis ini digunakan untuk deteksi toksin dengan berat molekul kecil, seperti monocyclic hepapetide, mikrosistin, yang diproduksi oleh Cyanobakteri, dimana hanya memiliki satu epitope. Dua jenis uji nonkompetitif dapat digunakan untuk mendeteksi protein toksin bakteri secara langsung. Uji yang pertama disebut Sandwich Enzyme Immunoassay hanya dapat digunakan untuk mendeteksi makromolekul, seperti protein toksin, yang memiliki paling sedikit dua posisi sterik berbeda, sehingga dua antibodi (antibodi penangkap dan antibodi pendeteksi) mengikat toksin dari antigen. Sedangkan jenis yang kedua, Solid phase diselubungi oleh toksin secara langsung, dan jumlah ikatan toksin dideterminasi menggunakan pelabelan antibodi spesifik. Dalam kedua kasus, respon uji ini adalah jumlah antigen target secara langsung (Zhou et al. 2014).
Pada langkah kedua, protokol berbeda dapat digunakan untuk menghasilkan pembacaan akhir setelah pengikatan antibodi primer. Dalam observasi yang sensitif terhadap reaksi antigen-antibodi, antigen atau antibodi harus dilabel baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelabelan secara langsung termasuk fungsionalisasi antibodi sekunder dan sistem biotin-avidin untuk menjembatani reaksi antigen-antibodi dan keberadaan signal (Shlyapnikov et al. 2012).
Modifikasi secara langsung antibodi primer dapat dilakukan dengan biomolekul, seperti Horseradish Peroxidase (HRP) atau Alkaline Phosphate (ALP), dan dapat menghasilkan perununan afinitas dan stabilitas yang dihasilkan oleh efek bagian yang tidak spesifik dari gabungan kimia dan/atau halangan sterik dengan adanya enzim yang dapat melengkapi reaksi tersebut. Selanjutnya, modifikasi oligonukleotida antibodi primer telah diimplemetasikan dalam metode immuno-PCR untuk mendeteksi toksin Shiga  2 (Stx2) dan jenis-jenis Stx2 (He et al. 2011).
Sementara, pada tahap ketiga, dimana pembacaan akhir sangat dibutuhkan. Meskipun metode label-free, seperti Surface Plasmon Resonance (SPR) dan sensor elektromagnetik, telah digunakan dalam pendeteksian toksin kolera dan LPS bakteri Gram negatif dengan sensitifitas tinggi (El Ichi et al. 2014), secara luas immunoassay memanfaatkan pelabelan imunoreagent. Signal tersebut dapat diamplifikasi menggunakan enzim, yang secara luas digunakan untuk uji kuantitatif dan kualitatif berdasarkan kolorimetri. Namun, deteksi sejumlah toksin terkadang membutuhkan signal penunjang, dan banyak metode lain, seperti fluoresen, luminesen, signal elektronik dan spektometri masa, telah diberlakukan untuk meningkatkan sensitifitas (Zhu et al. 2014).

Gambar 1 Tahapan Imunoassay: Reaksi Antigen-antibodi (A,B), Tahap awal (Pengenalan toksin target oleh Antibodi) Immunoassay (C), Tahap kedua (Subsequent signal transduction) Immunoassay  (D), Tahap ketiga (Pembacaan hasil kulaitatif atau kuantitatif) Immunoassay  (E, F).



Nanomaterial Immunoassay

Nanoteknologi termasuk bioanalisis dan merupakan salah satu bagian dari teknologi yang paling inovatif dan atraktif. Keragaman perbedaan ukuran, bentuk, dan komponen fungsional Nanomaterial telah diketahui. Nanomaterial dapat digunakan secara langsung dalam pembacaan atau secara tidak langsung sebagai penunjang pelabelan lain, seperti probe enzim dan probe fluoresen.


Gold Nanoparticles (AuNps)

Optical immunoassays didasarkan atas pewarnaan secara langsung yang dimediasi oleh AuNPs baik pada permukaan padat atau dalam cairan.  Immunoassay terdahulu, sebagai contoh, secara khas dilakukan dalam hidrofobic nitroselulosa dan membran selulosa acetat. Pada uji jenis sandwich, uji garis merah menunjukkan keberadaan target, disebabkan oleh akumulasi deteksi antibodi yang dilabel dengan AuNPs pada area uji. Selanjutnya, dalam perkembangannya, dual assay secara simultan dapat mendeteksi neurotoksin botulinum serotype A dan B dalam satu strip. Dalam pelabelan padat, setelah terjadi agregasi AuNPs melewati interaksi elektrostatik tidak spesifik atau setelah diikat oleh antibodi, terjadi perubahan drastic dari merah (partikel yang memudar) menjadi warna biru (partikel agregat), dimana dapat digunakan untuk deteksi visualisasi atau kuantifikasi. Sebagai contoh, toksin kolera subunit B (CTB) dapat mengikat AuNPs secara spesifik yang dimodifikasi oleh turunan laktosa dan menginduksi agregasi AuNPs, mengikuti deteksi toksin 54nM (3µg mL-1) (Jiang et al. 2013).


Magnetic Nanoparticles (MNPs)

Berdasarkan perkembangannya, metode nanomaterial memiliki multifungsi berdasarkan inti partikel yang ada di dalamnya, baik MNP dan Au atau silicon. Menariknya, MPN juga dapat digunakan secara langsung sebagai deteksi pembacaan toksin. Lima toksin bakteri, termasuk toksin kolera, toksin heat-labeled Escherichia coli, enterotoksin A dan B dan TSST dari S. aureussecara simultan dapat dideteksi dalam imunoarray pada sampel air, daging, dan susu (Zhu et al. 2014). Singkatnya, toksin-toksin tersebut muncul dengan adanya antibodi spesifik yang menyelubungi toksin pada saat microarray dan selanjutnya dilabel dengan antibodi deteksi biotinylated. Signal dari uji ini diperoleh dengan scanning permukaan microarray menggunakan penyelubungan MB streptavidin. Uji ultrasensitive ini dapat mendeteksi  toksin antara 0,1 hingga 1pg mL-1 dalam waktu kurang dari 10 menit, seperti 100 zeptomol atau 100000molekul toksin kolera dalam sampel dengan volum 0,1 mL. Lebih lanjut, magnesisasi nonlinear MNP digunakan untuk uji sandwich pada serat padat 3D untuk mendeteksi enterotoksin A Staphylococcus (SEA) dan TSST dalam sampel susu (Orlov et al. 2013). Uji pelabelan bebas ini hanya dapat mendeteksi 4pg mL-1 dan 20pg mL-1 TSST dan SEA. Antibodi bersatu dengan fluoresen magnetik mikrosferdilakukan untuk deteksi multi toksin pada neurotoksin botulinum tipe A dan B serta enterotoksin Staphylococcus tipe B (SEB) dan toksin sejenis dalam uji suspensi (Pauli et al. 2009).


Quantum Dots (QDs)

QDs merupakan nanokristal semikonduktor yang telah dikembangkan dalam berbagai bidang, pertama kali dikenalkan sebagai probe floresen dalam penerapan biomedik oleh dua laboratorium. Dibandingkan dengan floresen kimia tradisional dan protein, QDs memberi beberapa keuntungan, seperti spectrum eksitasi secara luas, hasil kuantum tinggi, dan fotostabilitas yang tinggi. Sebagai contoh, immunoassay sandwich floresen untuk kuantifikasi neurotoksin botolinum serotip A (BoNT/A) merupakan salah satu fungsi QDs dengan afinitas antibodi yang tinggi. Kemudian, immunoassay kompetitif tidak langsung telah dibangun untuk analisis mikrosistin LR dalam air. Karbon yang diselubungi oleh QDs dipadukan dengan aminoetil mikrosistin LR dan digunakan sebagai donor bersama dengan Cys5.5 yang dilabel dengan antibodi sebagai reseptor untuk menciptakan sistem transfer energi floresen (fluorescence resonance energy transfer (FRET)) untuk deteksi secara sensitive dan cepat LR mikrosistin dalam sampel air pada papan portable optofluidic. Intensitas floresen dari QDs dilakukan dengan adanya LR mikrosistin, dengan kemampuan deteksi 6,9 x 10-11 molL-1 toksin dalam sampel air (Zhu et al. 2014).


Carbon Nanomaterials

Nanomaterial karbon merupakan metode nanoteknologi yang menarik perhatian, meliputi penerapan secara luas, dari biosensing hingga drug delivery. Dibandingkan dengan nanomaterial turunan metal, seperti AuNPs atau Kadmium floresen QDs, nanomateri karbon menunjukkan biokompatibilitas yang bagus dan ramah lingkungan. Nanomateri yang banyak digunakan termasuk fullerenes, carbon nanotube (CNTs), grapheme, carbon dots, nanodiamon, dan karbon nanofiber (Zhu et al. 2014).
Berdasarkan struktur intrinsiknya, CNTs dapat dikategorikan ke dalam single-walled carbon nanotubes (SWNTs) dan multiwalled carbon nanotubes (MWNTs). CNTs digunakan secara langsung untuk deteksi pelabelan bebas terhadap toksin epsilon dari Clostridium perfringens dengan batas deteksi sekitar 2nM dan genom DNA Shiga-toxin dari E. coli. Selanjutnya, CNTs dimodifikasi dengan antibodi plastik, laktosa, dan peptide-peptida yang dikembangkan untuk deteksi mikrosistin, toksin kolera dan toksin antrak PA.
Sejak dikembangkan pertama kali pada tahun 2004 tentang komponen eletrik grafin, berbagai penerapan telah dilah dilaporkan. Sebagai contoh, grafin dan chitosan di-immobilisasi pada elektroda untuk mendeteksi mikrosistin LR, dan konjugat antibodi karbon nanosfer HRP digunakan sebagai signal amplifikasi. Pendekatan ini memiliki batas deteksi mikrosistin LR sebanyak 0,016µg L-1 dalam sampel air lingkungan. Grapheme oxide (GO), material dengan komponen super, telah digunakan secara luas untuk penerapan biomedik dan kebutuhan analisis. Selama proses preparasi, komponen GO floresen, adalah fenomena yang digunakan secara langsung untuk menguji mikrosistin. Penyerapan antibodi pada lembar GO secara spesifik menggambarkan mikrosistin yang terikat pada AuNPs, dengan floresen GO oleh FRET antara GO dan AuNPs. Dengan bantuan spektrum tinggi antibodi untuk mikrosistin, dapat mendeteksi 0,5µg L-1 dan 0,3µg L-1 mikrosistin LR dan mikrosistin RR. Lebih lanjut, penggunaan floresen GOs untuk pengujian platform biosensing yang berbeda. Sistem FRET yang menggunakan microarray antibodi CdSe/ZnS QD untuk deteksi E. coli O157:H7 telah dilaporkan, dengan QDs sebagai penerima transfer energi. GO berinteraksi dengan QDs melalui π-π stacking dan floresen dalam keadaan tanpa bakteri, sementara QDs akan mengaktifkan floresen ketika terdapat bakteri (Shi et al. 2012).

Gambar 2 Nanomaterial Immunoassays: (A). Gold Nanoparticles (AuNps), (B). Magnetic Nanoparticles (MNPs), (C). Quantum Dots (QDs), dan (D). Carbon Nanomaterials.



Micro Total Analysis System (µTAS)

 Micro Total Analysis System (µTAS) merupakan metode yang dikenal sebagai lab(oratories)-on-a-chip (LOC) dan alat microfluidic. Sistem pada metode ini berhubungan dengan pengujian kimia dan biologi pada miniaturized chip dalam skala sentimeter. Secara umum, jenis uji ini dengan platform microfluidic digolongkan kedalam dua golongan, yaitu:
1.    Chip yang didesain untuk penggambaran uji tradisional, seperti ELISA
2.    Chip yang berhubungan dengan sampel pretretmen, amplifikasi signal, dan teknik pembacaan.
Sandwich dan kompetitif dari ELISA dikombinasikan dengan alat microfluidic untuk meneliti sel tunggal dalam mengidentifikasi keberadaan protein intraseluler dan metabolit. Platform tersebut meliputi semua langkah analisis sel tunggal dari sel lisis ELISA, termasuk waktu inkubasi, langkah pengulangan dalam pencucian, dan pembacaan floresen. Sebuah ELISA microfluidic bekerja dalam membran semipermeabel terhadap prekonsentrasi target yang dianalisis oleh rata-rata elektromagnetik. Konsentrasi lokal dalam analisis dalam membran visinitas menghasilkan 200-fold  dari peningkatan signal ELISA, dimana signal background meningkat hanya 2 ikatan. Selanjutnya, hanya 5µL dari sampel yang dibuthkan untuk dibandingkan dengan 100µL ELISA (Yanagisawa et al. 2012).
Dalam sebuah penelitian, dilakukan kombinasi terhadap 8 chip channel dan satu SWNT yang berdasar atas immunoassay untuk deteksi SEB. Antibodi Rabbit anti-SEB di-imobilisasi pada SWNTs. Signal tersebut akan ditangkap dengan peningkatan chemiluminesen yang dapat mendeteksi 0,1ng mL-1 SEB dalam 10µL sampel. Lebih lanjut, platform microfluidic ini ditingkatkan dengan deteksi pelabelan dan dikondisikan dalam “Biological Semiconductor”. Kombinasi impedimetric imunosensor dengan chip microfluidic telah digunakan terhadap toksin kolera subunit B. Peningkatan impedance secara langsung berhubungan dengan ikatan toksin pada permukaan elektroda, dan toksin dengan tingkat rendah 1ng mL-1 dapat dideteksi (Chiriaco et al. 2011).

Gambar 3 (A): [a]. Layout Biochip, [b]. Skema cara kerja elektroda, dan [c]. Spektrum Nyquist pada toksin kolera dengan konsentrasi berbeda. (B): [a]. Skema kompetisi immunoassay dalam reaksi imun, dan [b]. Ilustrasi cara kerja chip pada immunoassay.



Metode Baru

Kecocokan terhadap probe floresen dalam potensi penerapan di bidang biologis telah dibuat dalam berbagai jenis pengembangan bahan-bahan. Di antara bahan-bahan tersebut, probe floresen aggregation-induced emission (AIE) telah dikembangkan untuk mendeteksi molekul kecil, DNA, dan protein. Keberadaan AIE memberikan respon floresen turn-on dalam agregat yang berlawanan dengan probe yang biasa dipakai yaitu aggregation-caused quenching (ACQ) dengan sensitivitas lebih tinggi dan lebih akurat. Kombinasi probe AIE dengan nanomaterial, misalnya GO, dan bahan mesoporous menunjukkan hasil yang sangat bagus dalam sensing target yang spesifik. Sebagai contoh, AIE-based aptasensor menggunakan aptamer sebagai elemen pengenal dan GO sebagai platform penyerap yang efisien telah dilakukan untuk deteksi DNA target dan Thrombin. Dalam hal yang sama, konjugasi probe AIE dengan antibodi spesifik dan berbagai nanomaterial dapat memberikan peluang terhadap sensitivitas dan selektif immunoassay untuk deteksi bermacam-macam toksin bakteri (Li et al. 2014).
Dibandingkan dengan kemampuan immunoassay dalam channel microfluidic, sistem digital microfluidic (DMF) selalu popular, dimana pendekatan ini sebagai alternatif droplet dengan permukaan terbuka berdasar atas sistem cair. Dalam sistem DMF, fluidic dikontrol secara elektrostatis dalam droplet tersendiri, dalam ukuran picoliter hingga microliter, terhadap sebuah uji insulator hidrofobik yang diselubungi elektroda. Pemisahan droplet dapat dimanipulasi untuk mencampur, memisahkan, dan menghilangkan kebutuhan akan minyak. Manfaat tersebut membuat DMF merupakan sistem yang cocok bagi immunoassay baik yang kompetitif maupun non-kompetitif. Suatu sistem otomatis telah dikembangkan untuk melengkapi immunoassay dari penerapan sampel terhadap pembacaan optikal dengan cara manual. Sebuah desain pengujian tiga faktorial (DOE) telah diimplementasikan untuk optimalisasi konsentrasi dan volume sampel serta waktu inkubasi terhadap peningkatan sensitivitas uji sandwich. Sementara itu, platform DMF penunjang immunoassay dan deteksi elektrokimia juga telah dikembangkan. Konjugasi magnetic mikropartikel antibodi primer digunakan untuk menangkap target, dan antibodi sekunder yang dilabel dengan HRP mengkatalis substrat pada pengujian ampermetrikal (Zhu et al. 2014).
Sebuah penelitian mengenalkan immunoassay kromatografik yang disebut dengan alat diagnostic berdasar paper. Paper tersebut dikenalkan sebagai substrat untuk alat microfluidic dalam test diagnostic secara cepat, yaitu microfluidic paper analytical device (µPAD). Metode tersebut memberikan beberapa manfaat sebagai polymer polydimethylsiloxane (PDMS) atau stik poly(methyl methacrylate) (PMMA). Mereka dapat dengan mudah didesain dan dibuat menggunakan barrier hidrofobik (lilin atau udara) dan cocok dengan larutan hidrofilik dan sampel dengan volume kecil. µPAD hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan hampir tidak membutuhkan perlengkapan khusus. Manfaat-manfaat membuat µPAD cocok point-of-care testings (POCTs) dan penerapan dalam situasi minim sumber. Selain itu, bahan-bahan lain yang mudah dipakai, seperti polypropilen, telah digunakan untuk menunjang deteksi immunoassay multiple protein. Uji imunokromatografik sandwich prinsip mirip benang dalam aliran immunoassay kromatografik untuk target tunggal (Zhu et al. 2014).
Analisis toksin abketri paling popular merupakan perkembangan metode analisis multiplek, dalam beberapa contoh telah dilaporkan. Uji-uji tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok:
1.    Uji yang dilarutkan secara spectrum, seperti immunoassay QDs berbeda atau signal yang berhubungan dengan enzim
2.    Uji yang dilarutkan secara spasial, seperti SPR dan mikroassay
3.    Uji yang dialrutkan secara berkala, seperti HPLC, dan
4.    Uji yang dilarutkan dnegan molekul, seperti MALDI-TOF.
Teori matematika dalam uji-uji tersebut berawal dari model one-to-one (M=N), dimana M bermakna faktor multipleks dan N bermakna jumlah target. Dalam sebuah penelitian, uji immunoassay berdasar OR dikembangkan untuk deteksi secara simultan pada tujuh komponen protein toksin Bacillus cereus (Rajagopal et al. 2013).


Gambar 4 (A). [a]. Sintesis probe AIE (9,10-dystyrylanthracene dengan dua grup ammonium, DSAI), [b]. Skema penjelasan floresen selektif berdasar aptasensor pada probe DSAI/GO. (B). Skema langkah dalam elektroimunoessay DMF, (C). Uji Imunokromatografi, dan (D). jenis utama uji deteksi toksin bakteri dalam plate microtiter.



SIMPULAN

Deteksi toksin bakteri menggunakan antibodi menjadi pendekatan yang sukses dalam beberapa dekade. Pengujian di masa depan sulit dapat digambarkan tanpa penggunaan antibodi sebagai elemen pengenal. Perkembangan terkini dalam teknik antibodi akan sangat membantu dan memfasilitasi integrasi antibodi atau fragmen antibodi ke dalam format uji yang baru.








DAFTAR PUSTAKA

Akiyoshi DE, Sheoran AS, Rich CM, Richard L, Chapman-Bonofiglio S, Tzipori S. 2010. Evaluation of Fab and F(Ab')2 Fragments and Isotype Variants of a Recombinant Human Monoclonal Antibody Against Shiga Toxin 2. Infect. Immun, 78:1376–1382.
Argudin MA, Mendoza MC, Rodicio MR. 2010. Food Poisoning and Staphylococcus aureus Enterotoxins. Toxins, 2:1751–1773.
Byrne B, Stack E, Gilmartin N, O’Kennedy R. 2009. Antibody-Based Sensors: Principles, Problems and Potential For Detection Of Pathogens And Associated Toxins. Sensors, 9:4407–4445.
Chiriaco MS, Primiceri E, D'Amone E, Ionescu RE, Rinaldi R, Maruccio G. 2011. EIS Microfluidic Chips for Flow Immunoassay and Ultrasensitive Cholera Toxin Detection. Lab. Chip, 11:658–663.
El Ichi S, Leon F, Vossier L, Marchandin H, Errachid A, Coste J, Jaffrezic-Renault N, Fournier-Wirth C. 2014. Microconductometric Immunosensor for Label-free and Sensitive Detection of Gram-negative Bacteria. Biosens. Bioelectron, 54:378–384.
He X, Qi W, Quinones B, McMahon S, Cooley M, Mandrell RE. 2011. Sensitive Detection of Shiga Toxin 2 and Some of Its Variants in Environmental Samples by a Novel Immuno-PCR Assay. Appl. Environ. Microbiol, 77:3558–3564.
Jiang S, Win KY, Liu S, Teng CP, Zheng Y, Han MY. 2013. Surface Functionalized Nanoparticles for Biosensing and Imaging-guided Therapeutics. Nanoscale, 5:3127–3148.
Kayser FH, Bienz KA, Eckert J, Zinkernagel RM. 2005. Medical Microbiology. New York: Thieme.
Li X, Ma K, Zhu S, Yao S, Liu Z, Xu B, Yang B, Tian W. 2014. Fluorescent Aptasensor Based on Aggregation-Induced Emission Probe and Graphene Oxide. Anal. Chem., 86:298–303.
Orlov AV, Khodakova JA, Nikitin MP, Shepelyakovskaya AO, Brovko FA, Laman AG, Grishin EV, Nikitin PI. 2013. Magnetic Immunoassay for Detection of Staphylococcal Toxins in Complex Media. Anal. Chem., 85:1154–1163.
Pauly D, Kirchner S, Stoermann B, Schreiber T, Kaulfuss S, Schade R, Zbinden R, Avondet MA, Dorner MB, Dorner BG. 2009. Simultaneous Quantification of Five Bacterial and Plant Toxins from Complex Matrices using a multiplexed Fluorescent Magnetic Suspension Assay. Analyst 134: 2028–2039
Payne AM, Zorman  J, Horton M, Dubey M, ter Muelen J, Vora KA. 2013. Caspase Activation as a Versatile Assay Platform for Detection Cytotoxic Bacterial Toxins. J. Clin. Microbiol. Vol. 51, No. 9:2970-2976.
Rajagopal A, Scherer A, Homyk A, Kartalov E. 2013. Supercolor Coding Methods for Large-Scale Multiplexing of Biochemical Assays. Anal. Chem., 85:7629–7636.
Senesi S, Ghelardi, E. 2010. Production, Secretion and Biological Activity Of Bacillus Cereus Enterotoxins. Toxins, 2:1690–1703
Shi Y, Wu J, Sun Y, Zhang Y, Wen Z, Dai H, Wang H, Li Z. 2012. A Graphene Oxide Based Biosensor for Microcystins Detection by Fluorescence Resonance Energy Transfer. Biosens. Bioelectron., 38:31–36.
Shlyapnikov YM, Shlyapnikova EA, Simonova MA, Shepelyakovskaya AO, Brovko FA, Komaleva RL, Grishin EV, Morozov VN. 2012. Rapid Simultaneous Ultrasensitive Immunodetection of Five Bacterial Toxins. Anal. Chem., 84:5596–5603.
Voth DE, Ballard JD. 2005. Clostridium Difficile Toxins: Mechanism of Action and Role in Disease. Clin. Microbiol. Rev. 18:247–263.
Yanagisawa N, Dutta D. 2012. Enhancement in The Sensitivity of Microfluidic Enzyme-Linked Immunosorbent Assays Through Analyte Preconcentration. Anal. Chem., 84:7029–7036.
Zhu K, Dietrich R, Didier A, Doyscher D, Martlbauer E. 2014. Recent Developments in Antibody-Based Assays for the Detection of Bacterial Toxins. Toxins. 6:1325-1348.


LAMPIRAN
Tabel 1. Overview Perkembangan Metode Deteksi Toksin Bakteri
Assay
Jenis
Keterangan
Jenis toksin yang dideteksi
Immunoassay
Pengenalan target toksin oleh antibodi

(Competitive and noncompetitive immunoassay)

Monocyclic  hepapeptide
Deteksi toksin dengan berat molekul kecil
Mikrosistin (Cyanobacteria)
*hanya memiliki satu epitop
Sandwich Enzyme Immunoassay
Deteksi toksin dengan berat molekul besar
Toksin yang meiliki paling sedikit 2 epitope
Solid phase
Deteksi dengan penyelubungan toksin dengan antibodi spesifik

Subsekuen transduksi signal
(pelabelan antibodi primer atau sekunder)
Horseradish Peroxidase (HRP) atau Alkaline Phosphate (ALP)
Pelabelan menggunakan enzim


Immuno-PCR
Pelabelan menggunakan antibodi primer oligonukleotida
Toksin Shiga  2 (Stx2)
Teknik pembacaan sebagai hasil kualitatif atau kuantitatif
Fluorescence, luminescence, electrical signal, and mass spectometry
Berguna untuk meningkatkan sensitifitas pengujian

Nanoteknologi
Optical immunoassays
Gold Nanoparticles (AuNps)
Fluidic
Menggunakan hidrofobic nitroselulosa dan membran selulosa acetat
Neurotoksin botulinum serotipe A dan B
Solid
·          Terjadi perubahan warna secara drastis karena adanya agregasi AuNPs melewati interaksi elektrostatik tidak spesifik
·          Digunakan sebagai deteksi visualisasi dan kuantifikasi
Toksin kolera subunit B (CTB)
Ultrasensitive assay
Magnetic Nanoparticles (MNPs)


·         Toksin-toksin muncul dengan adanya antibodi spesifik yang menyelubungi toksin
·         Dapat mendeteksi  toksin antara 0,1 hingga 1pg mL-1 dalam waktu kurang dari 10 menit
·         Sampel air, daging, dan susu
·         Toksin kolera,
·         Toksin heat-labeled Escherichia coli,
·         Enterotoksin A dan B,  dan
·         TSST dari S. aureus
Nanoteknologi
Nanokristal semikonduktor
Quantum Dots (QDs)
Solid (sandwich)
Direct assay secara kuantitatif
Neurotoksin botolinum serotip A (BoNT/A)
Fluidic
·   Indirect assay portable optofluidic
·   Bekerja dengan sistem transfer energi flouresen (FRET)
·   Sampel air
Toksin LR mikrosistin

Carbon Nanomaterial (CNTs)

Single-walled carbon nanotubes (SWNTs)
·   Direct assay
·   Menggunakan plastic antibody, lactose, dan peptide
·   Sampel air lingkungan
·      Toksin epsilon dari Clostridium perfringens
·      DNA Shiga-toxin dari E. coli
·      Mikrosistin
·      Toksin kolera, dan
·      Toksin Antrak
Multiwalled carbon nanotubes (MWNTs)

Micro Total Analysis System (µTAS)
Miniaturized chip
Uji tradisional
ELISA
·   Deteksi sel tunggal dalam protein intraseluler dan metabolit
·   Dilakukan pada membran semipermeable
·   Direct dan indirect
·      Toksin SEB
·      Toksin kolera subunit B
Pretreatment Chip
Pretretmen, amplifikasi signal, dan teknik pembacaan
·   Dilakukan dengan kombinasi chip dan material lain seperti SWNT
·   Dikondisikan dalam Biological semiconductor
·   Direct method
·   Dapat dilakukan pada toksin dengan tingkat rendah.




Metode baru
Fluorescence probe
Aggregation induced emission (AIE)
·   Sensitivitas tinggi
·   Akurasi tinggi
·   Dilakukan konjugasi probe AIE dengan antibodi spesifik dan berbagai nanomaterial
Berbagai macam toksin bakteri
Aggregation-caused quenching (ACQ)

Optical readout
Digital microfluidic (DMF)
·   Konjugasi magnetic mikropartikel antibodi primer
·   Pelabelan menggunakan antibodi sekunder HRP

Three-level factorial design of experiment (DOE)
·  Sebagai optimalisasi konsentrasi dan volume sampel serta waktu inkubasi untuk meningkatkan sensitivitas uji sandwich

Metode baru
Paper-based chromatography
Microfluidic paper analytical device (µPAD)
Polymer polydimethylsiloxane (PDMS)
·  Didesain menggunakan barrier hidrofobik namun cocok dengan larutan hidrofilik
·  Sampel bervolume kecil
·  Hanya membutuhkan waktu beberapa menit

Multiple Target (ptotein/toksin).

Poly(methyl methacrylate) (PMMA)
Multiplex analysis (Mathematic-based theories)
Spectrally resolved assays
Penggunaan enzim sebagai pembeda signal
QDs
·   Direct
·  Jumlah target tidak terbatas

·           Berbagai macam toksin bakteri
·           Telah dilakukan peneltian tentang deteksi tujuh macam toksin yang disekresi oleh B. cereus
Spatially resolved assays
SPR and microarrays
Temporally resolved assays
HPLC
Molecule resolved assays
MALDI-TOF mass spectrometry